Sore baru saja tiba. Nasi di piring masih mengepul. Hangat. Aroma harum beras pandanwangi, memenuhi ruangan. Wangi. Hanya tahu goreng dan sambal saja di atas meja. Ditemani semangkuk sayur lodeh.
“Memang nikmat.”
Sekepal demi sekepal, nasi menuju mulut. Pulen dan enak. Anak-beranak pun makan dengan lahapnya.
“Ini beras organik,” sang ayah memaparkan, “jadi terasa betul nikmatnya.”
Si Mbarep menatap sang ayah. Secuil tempe mampir ke mulutnya yang mungil.
“Iya, para ibu-ibu petani di Peniwen, mereka menanam beras padi organik. Padi yang tidak dipupuk dengan pupuk kimia, juga disemprot dengan obat kimiawi,” ujarnya berkisah, sesaat melihat sorot mata Si Mbarep yang menuntut penjelasan.
“Lha iya, lha wong racun kok disebut obat!” sang Bunda menimpali.
“Memang, kita ini sudah kadung banyak salah kaprah. Bahan pembasmi hama pengganggu tanaman, disebut obat. Padahal itu racun!” geram terdengar.
Di dalam sana, ada sebogkah kekuatan yang menyulut geram itu. Bagi Sang Ayah, sedikit banyak, dia memahami pergulatan batin petani, petani jawa khususnya. Pada bukanlah semata tanaman komoditas perdangan. Bukan sebatas itu. Lewat beberapa teman petaninya, dia mendapat pengertian bahwa padi adalah ‘tumbuhan dewata’.
Lewat tanaman inilah manusia Jawa percaya pemeliharaan kehidupan oleh Dewata. Jadi, dengan menanam dan memelihara tanaman padi, sebenarnyalah –jauh di lubuk terdalam sana- memuat penghayatan akan penyelenggaraan Illahi nan agung. Padi, dengan demikian, menjadi lambang kehadiran Sang Penyelenggara Hidup di dalam dunia keseharian.
Penghayatan seperti ini seperti porak-poranda, justru ketika pemerintah lewat kebijakannya (?), menetapkan benih, pupuk dan ‘obat’ semprot hama sebagai elemen dalam menenam padi. Pupuk dan ‘obat’ yang sejatinya adalah bahan kimiawi yang sulit diurai oleh mikroganisme tanah.
“Pa...” sapa si Mbarep dengan sorot matanya.
“Sudah, Nak...?” Sang Bunda bertanya, seraya tangannya berusaha mengangkat piring kosong di depan anaknya. Persis ketika piring mau diangkat, tangah si Mbarep memeganginya.
“Mau nambah.....imbuuhh...?”
Si Mbarep pun mengangguk.
“Tumbeeennn...!” seru sang Ayah. “Gitu doong, makan yang banyak, biar lekas gedhe....hehehee...baguss...” sang Ayah mengacungkan jempolnya
Malam baru saja datang. Acara makan malam pun tuntas sudah. Masing-masing perut telah diisi. Kenyanglah sekeluarga. Di dalam hati, masing-masing berseru dalam ungkapan syukur. Sang Bunda pun tersenyum puas. Tanpa lauk macam-macam, ternyata makan malam pun bisa terasa nikmat.
“Mangan sing paling enak iku, Cah Ayu, yen lawuhe luwe lan syukur...” teringat wejangan sang Kakek.
“Oh iya, Ayah, kemarin Bu Bambang datang. Dia menanyakan urunan beras untuk acara barik’an atau tasyakuran peringatan hari kemerdekaan.”
“Oh iyaa...teruss...sudah diberikan?”
“Sudah,” pendek saja jawab Sang Bunda.
“Oohh...syukurlahh...” balas Sang Ayah tanpa ekspresi.
“Iya, kemarin sengaja saya ambilkan beras organik kita.”
“Hahh...apaaa?!! Pakai beras organik?!!” sontak melonjak penuh nada tinggi. “Bagaimana sihh...itu kan beras mahal. Enak! Kokk....?!”
Seulas senyum indah mengembang dari bibir Sang Bunda. Sambil mengelus pundak suami tercinta, Sang Bunda bertutur, “Ayah, beras itu memang enak. Beras organik. Kualitasnya memang baik, jadi enak. Jadi kalau kita berikan untuk acara syukuran, kan ya sudah sepantasnya....Masak untuk diberikan orang lain, bukan yang terbaik...heheee...masih ada kok di belakang...”
Deretan kalimat itu bak air samudera raya. Teduh. Tenang namun menggulung tuntas ego yang berdiri tegap.
“Tak salah kumemilihmu....” Sang Ayah pun berdiri menghampiri isterinya. Sekecup cium mendarat di dahinya.
“Terima kasih, sayang, atas hikmatmu....”
Rawamangun, 30 Agustus 2011

mengingatkan saya kepada sebuah wejangan pembuat topeng. kalau bisa berikan yang terbaik pada sesama, berikanlah, jangna ditahan. kadang kita menyimpan yang terbaik buat diri sendiri dan memberikan yang kurang baik buat sesama .. inspirative sir!
BalasHapus