Kamis, 09 Februari 2012

Pintu Peringatan

Seperti pada musim kemarau, matahari agak malas terbenam. Siang seolah menjadi lebih panjang. Padahal, saat ini, 8/02, masih terhitung musim penghujan. Entah kenapa, sudah dua hari ini hujan tiada turun lagi. Bahkan matahari bersinar terik. Seterik dan sepanas matahari musim kemarau. Beberapa waktu lalu, ketika musim kemarau, terdengar keluh beberapa teman yang tinggal di Surabaya.
“Wah, Surabaya puanass bangeet. Panas yang tak seperti biasanya,” teriaknya di laman fecebook.
Sebaliknya, ketika musim penghujan yang belum juga tuntas harinya ini, hujan turun dengan derasnya. Sederas-derasnya, seperti langit yang muntah. Berikut angina puyuhnya. “Iklim yang ekstrim,” demikian orang-orang, baik di berita dalam media  maupun ketika obrolan lepas.
Pada petang yang masih enggan menjemput gelap itu, kami, saya dan seorang sahabat, berkunjung ke rumah Agus, teman kami. Sepulang dari kantor. Ia tinggal persis di sebuah perkampungan di belakang tempat kerja kami, Dusun Doro, Desa Karangwidoro, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang.
Perkampungan. Ya, karena kantor kami berada di sebuah kawasan perumahan mewah, tepatnya di kawasan Perumahan Tidar, Malang. Dahulu, sebenarnya belum terlalu lama juga, mungkin sekitar sepuluh tahun lalu, kawasan ini tidak lebih dari hamparan belantara ilalang. Tanahnya tidak terlalu subur. Tergolong lahan tadah hujan. Artinya, hanya bisa ditanami di saat musim penghujan. Dengan begitu, mudah dipahami, dengan kemampuan dan ketrampilan pas-pasan, hamparan lahan itu tidak banyak menghasilkan pemasukan. Penjualan tanah menjadi pilihan terbaik.
Kawasan ini mengalami perubahan yang drastis, ketika hamparan lahan ilalang tersebut dibeli oleh seorang konglomerat perumahan. Ilalang, semak belukar, seperti ‘disulap’ menjadi kawasan yang apik, indah, asri dan mewah. Tentu saja, harganya pun cukup ‘mewah’. Rumah tipe 54 (terkecil), saat ini dijual dengan harga Rp 350 juta. Saban pagi, Nampak berseliweran mobil mewah melintas jalan perumahan. Hmm….
Setelah kawasan perumahan ini mulai ramai hunian, tidak sedikit warga sekitar yang bekerja di dalam lingkungan perumahan ini. Beberapa di antaranya bekerja sebagai tenaga keamanan (satpam). Baik satpam di perumahan maupun di kantor (salah satunya di kantor kami). Beberapa lainnya, menjadi petugas kebersihan. Baik di kantor (juga kantor kami), maupun di rumah-rumah warga perumahan sebagai asisten rumah tangga.
Mereka dahulu bekerja sebagai petani, peladang, di atas tanah yang kini menjadi tempatnya bekerja. Beberapa di antaranya, masih setia memelihara ternak, ada yang kambing, ada pula sapi. Pada hamparan ilalang dan belukar di sekitar perumahan itu, mereka merumput. Pada sore hari, Nampak beberapa ibu mendulang sambil momongan anaknya, di seputar taman perumahan.
Seperti banyak kawasan perumahan mewah di lain tempat, tembok pagar menjulang tinggi sengaja dibangun. Mungkin penghuni kawasan ini merasa lebih aman dan nyaman dengan tembok tersebut. Nah, di salah satu sudut wilayah perumahan itu, terdapat sebuah pintu. Pintu besi. Bukan pintu gerbang yang mobil atau truk bisa lewat. Tapi pintu yang hanya cukup dilewati sepeda motor. Itu pun tidak bisa lewat bersamaan. Mesti ada salah satu yang mengalah.
Lewat pintu inilah warga yang bekerja di lingkungan perumahan itu berangkat dan pulang. Termasuk mereka yang mencari pakan bagi ternaknya. Tembok menjulang adalah pembeda antara dua kawasan berbeda bak langit dan bumi. Dua dunia. Pintu adalah lubang kecil dua dunia dapat saling mengintip.
“Dahulu, pintu itu ditutup jam 5 sore,” tutur teman kami, ketika obrolan telah begitu gayeng di rumahnya. Ditemani segelas teh hangat.
“Kalau telat sedikit saja,” nadanya meninggi, “pintu itu sudah ditutup rapat. Digembok.” Kepalanya menggeleng. Senyumnya mengembang. Senyum yang getir.
“Oalahh…yoo wis, mubeng maneh. Mesti berputar turun dari perumahan ini, lalu naik lagi ke desa perkampungan ini,”tak kuasa menahan sesal. Kepalanya masih menggeleng-geleng.
Terbayang, mereka yang bekerja sebagai asisten rumah tangga, petugas kebersihan, pencari rumput untuk ternak, kuli bangunan maupun para ibu yang momongan anaknya, mesti melalui jalan memutar seperti Agus, teman kami itu. Mereka hanya bisa membatinkan resah. Tembok pagar pembatas terlalu tinggi dan angkuh buat mereka. Mungkin, hanya tembok pagar itu pula yang mendengar desah mereka.
Nah, di suatu sore, lanjutnya lagi, para tetangga heboh oleh kabar bahwa pintu besi itu hilang. Dijebol orang. “Seorang tetangga yang menjadi kuli bangunan, dia sempat menyaksikan peristiwa itu.
“Suatu sore, saya melihat ada  seorang tua berjalan. Rambutnya ubanan. Dia mau lewat pintu itu. Tapi pintunya sudah ditutup. Lantas, ia berhenti sejenak. Memandang pintu. Pintu besi itu kemudian diangkat. Diangkat dengan kedua tanganya. Lalu pintu besi itu dilemparkan ke sungai di sebelah pintu itu.”
“Padahal,” lanjutnya mengisahkan, “dulu itu, waktu memasang pintu itu, butuh empat orang untuk mengangkatnya!”
“Nah, waktu mengambil dari pinggir kali, butuh orang empat juga. Saking beratnya!” kali ini sorot mata Agus menajam. Kepalanya Nampak menggeleng lagi.
Tentu saja, kami membutuhkan waktu demi memahami kisah itu. Orang tua, mengangkat dan melemparkan pintu ke kali, seperti melemparkan sandal….
“Kini, pintu itu sudah dipasang kembali. Tapi tidak pernah digembok!”
Subanallah…
Bukit Tidar,
Malang, 10 Februari 2012