Selasa, 28 Mei 2013

Rumah bagi Jiwa





Minggu siang, 26 Mei, Kota Malang diguyur gerimis. Agak deras. Di tengah menikmati suara gemercik air, daun pintu rumah diketuk orang.

“Numpang ngiyup, ya Mas..” Ahaa, ternyata seorang teman. Bersama istrinya, ia berbasahan dia merapat ke depan rumah.

Setelah berbasa-basi sejenak, sepasang suami-istri ini mengungkapkan maksud. Mereka sedang menunggu pemilik rumah di samping rumahku. “Kami hendak melihat rumah, Mas. Siapa tahu cocok,” selorohnya datar saja.

Perbincangan mengalir selancar gerimis siang itu. Rupanya, mereka sedang ‘berburu’ rumah tinggal. Siang itu, sedang menunggu pemilik rumah yang diincar itu datang. Di samping rumahku memang ada satu rumah kosong bertuliskan ‘dijual’.

Tidak banyak yang aku tahu tentang mereka. Sebagian kecil yang ku tahu, mereka sudah bertahun-tahun tinggal di daerah Mergan. Sang suami sudah puluhan tahun mempersembahkan diri membantu sebagai tenaga sekretariat di sebuah gereja. Mereka tinggal di rumah miliki gereja tersebut. Konon, pengurus gereja dahulu membeli rumah untuk ditempati keluarganya. Sudah puluhan tahun silam...
Beberapa bulan lalu, aku sempat dengar, beberapa anggota pengurus gereja, setuju bahwa rumah tersebut bisa dicicil oleh penghuninya. Ya, hanya beberapa saja. Sisanya (mungkin lebih banyak jumlahnya) menyatakan tidak setuju. Mendengar polemik itu, dia merasa tidak nyaman. Diputuskanlah mencari rumah tinggal baru. Diam diam.

“Kami sudah sempat berkeliling, melihat di beberapa perumahan. Tapi belum ada yang cocok. Durung sregg..”

“”Termasuk harganya..”
Mereka saling melengkapi.
Hahaaa….

Meledaklah tawa bersama, menimpali gerimis.

Tawa kami diredakan oleh dering telepon genggamnya. Rupanya, sang empunya rumah sudah datang dan bisa ditemui. Mereka pergi melihat rumah, menerjang hujan dengan payung.

 “Kayaknya rumahnya lebih kecil dari rumah yang kami tinggali sekarang, Mas…”

“Iya..kami bilang sih, akan menimbang-nimbang lagi…”

Sorot matanya memandangi meja. Tatapan yang di luar kendali maksud. Apalagi setelah menyebutkan sejumlah angka, harga penawaran rumah tersebut.

“Kami sekarang tinggal bertuju. Ada saudara juga yang tinggal bersama kami. Kalau dengan harga segitu, dan kami mesti membuatnya menjadi dua lantai… yakapa ya…” meluncur saja nada keluh itu.
Sore segera menjelang. Gerimis sudah mereda. Mereka pun berpamit. Sang suami memakai jas hujan. Istrinya, mengiring di belakangnya, menyusup masuk ke dalam jas hujan suaminya.

Malamnya, aku ceritakan pada istriku perjumpaan sesore itu. Sebab istriku kebetulan ke luar rumah mulai siang hingga malam. “Sang suami itu, lima tahun lagi sudah akan pensiun, lho…”

Berdua, seolah kami terserap diam. Entah mengapa, imajinasi yang muncul adalah wajah anak-anak mereka yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Mereka berusaha mencari rumah di sekitar daerah Mergan atau Bandulan. Meski ada nylempit. Selain murah, mereka juga merasa nyaman pergi ke gereja dengan warga yang masih dikenalnya. Warga yang tidak sedikit menjadi bagian dari kelompok masyarakat menengah ke bawah.

“Kalau ke gereja ini, kan warganya masih banyak yang setara, Mas…”

Kalimat terakhir ini sempat tinggal beberapa saat. Ada yang mengganjalnya lewat begitu saja. Tiba-tiba, teringatlah seraut wajah seorang sahabat lama. Dia bekerja di sebuah perusahaan di seputar daerah Rungkut, Surabaya. Tinggal di rumah petak. Rumah hunian para buruh pabrik.
Dia mengaku, akhir-akhir ini sudah jarang beribadah di gereja. Awalnya, dia berusaha menyembunyikan jawab. Setelah beberapa saat, dia mengaku,, “Dahulu, saya dan teman-teman masih aktif ke gereja. Ikut kebaktian dan kegiatan. Tapi sebelum gereja itu dibangun. Setelah dibangun, gereja itu begitu apik. Lantainya mengkilap.”

“Iya jelas, lha wong marmer kok…” teman di sampingnya menambahi.
Setelah gereja begitu apik, ada banyak warga yang ikut ibadah di sana. “Awalnya sih senang. Tapi, lama kelamaan, kok terasa yakapa….”

“Warganya banyak yang datang bermobil. Jadi kalau ibadah, jalan depan gereja penuh…”
Ada kalimat yang tidak tuntas. Menggantung tak tak terselesaikan….

“Ya, kalau ke gereja pas pulang ke Tulungagung saja. Sambil tilik keluarga. Anak saya ikut mbahnya di sana. Mungkin, ya tiga bulan sekali…”

Tanah masih basah oleh gerimis. Merayap pelan, rindu rumah yang tak lagi asing bagi jiwa….

Selamat bulan Kesaksian dan Pelayanan GKJW 2013

Selamat merayakan hidup.

Berkah Dalem Gusti

Bukit Tidar, 29 Mei 2013

Terima Kasih, Cornelia…


 

Terima kasih, Cornelia.
Kalimat itu meluncur begitu saja. Tanpa suara.
Semalam, terbetik kabar, Mahasiswi Program Studi (Prodi) Teknik Informatika Universitas Ma Chung (UMC) ini, menghembuskan nafas terakhirnya, 23/05. Terhenyak mendengarnya.
Melintas begitu saja, ingatan perjumpaan yang tidak begitu lekat. Dia sempat menarik perhatian. Bukan lantaran dia ‘istimewa’ dibanding mahasiswa lainnya, karena saban hari berkursi roda. Tubuhnya terserang polio, hingga memaksanya hidup berkursi roda, semenjak kanak. Akibatnya, pertumbuhan tubuhnya tidak senormal anak sebayanya.
 

Aku sama sekali tidak cukup mengenalnya dengan baik. Hanya begitu jelas di pandang bahwa tubuhnya kecil. Cenderung ringkih. Akan tetapi, semangatnya jauh melampaui kursi roda, bahkan tubuhnya sendiri.
Dia mengisi hari-harinya dengan kerja keras. Manusia pembelajar. “Kalau belajarnya belum selesai, ya dia gak akan istirahat. Meski sampai jam 11 atau jam 12 malam,” tutur Pak Min. Pak Min tahu hal itu, karena saban hari, dialah yang menjemput pulang Bu Misna, istrinya.
“Iya, dia hanya ingin ditemani saja,” tambahnya mengenang.
 

Sepulang sekolah atau kuliah, tambahnya lagi, dia tidak pernah tertarik walau sekadar mampir kongkow di mall. Entah mengapa, dia selalu ingin segera pulang. “Dia ingin segera pulang secepatnya untuk belajar.” Tak heran, prestasi akademiknya cukup lumayan. Dia mendapat beasiswa penuh dari Perguruan Tinggi Swasta ternama di Surabaya. Dia juga tercatat jarang absen dalam perkuliahan.
 

Sekilas, dia seperti seorang mahasiswi yang hanya bergaul dengan buku. Etos kerja kerasnya, jawaban bahwa di balik tubuh yang lemah, prestasi akademik juga masih bisa dicapai. Di bidang non akademik, namanya tercantum dalam struktur kepengurusan Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMP) Teknik Informatika Periode 2013-2014, sebagai Sekretaris.
“Dia memang suka ikut kegiatan outbond. Mulai sejak sekolah SMA maupun kuliah,” tutur Pak Min. Pak Min adalah suami dari Bu Misnah, pengasuh Cornelia semenjak kecil.
Hal itu pula yang terjadi, ketika dia mengikuti acara Orientation Based on Reflection (Obor) I. Kegiatan pelatihan kepemimpinan yang tidak diwajibkan. Kegiatan tersebut sengaja diadakan demi mengungkit kesadaran mahasiswa dalam mengembangkan potensi dirinya. Nah, Cornelia Chandra bersama 50 mahasiswa mendaftarkan diri, ikut pelatihan yang digelar di Pertapaan Carmel, Ngadiresa, Tumpang, Kabupaten Malang, 15-17 Januari 2013 (bahkan ketika jumlah pendaftar melebihi kuota, acara tersebut digelar lagi. Namun dia sudah ikut pada gelombang pertama).
 

Pada pelatihan di Tumpang tersebut, salah satu kegiatannya adalah kerja kelompok membuat rancang bangun dari bambu. Dia sadar keberadaannya. Namun dia sama sekali tidak menghabiskan waktu dengan beristirahat. Tangannya selalu ingin bergerak membantu rekan satu tim. Dia tidak ingin diistimewakan hanya karena keterbatasan fisiknya.
 

Kehadiran Lia, demikian dia akrab disapa, di masa perkuliahan, menjadi salah satu pupuk bagi tumbuhnya benih kepedulian sesama. Kelasnya berada di lantai ketiga. Sementara itu, gedung perkuliahan belum dilengkapi dengan fasilitas bagi mereka yang memiliki kebutuhan khusus. Tak pelak, dua orang pengasuhnya, seringkali dibantu teman-teman mahasiswa mengangkat tubuhnya di kursi roda.
 

Pada Selasa, 21/05, dia sakit flu. Sempat berobat ke dokter. Esok paginya, Rabu, 22/05, dia minta diantarkan kuliah. Padahal menurut pengasuhnya, dia sudah mengantongi surat ijin dokter untuk beristirahat. “Pagi saya mengantarnya (kuliah), siang pulang. Setelah istirahat, sorenya ada jadwal kuliah lagi. Dia pun berangkat juga. Kamis dia merasa dadanya sesak. Padahal selama ini dia tidak menderita sakit dada….” tutur Pak Min lagi.
 

Kondisi tubuhnya, seolah berbanding terbalik dengan semangatnya. Begitu jelas. Bahkan, terlalu jelas kalimat tanpa kata yang dia ungkapkan…

Terima kasih Cornelia Chandra atas pelajarannya…
Selamat beristirahat dalam keabadian...

http://www.facebook.com/photo.php?fbid=4744487334895&set=a.1485127732942.219468.1376352384&type=1

Kamis, 09 Februari 2012

Pintu Peringatan

Seperti pada musim kemarau, matahari agak malas terbenam. Siang seolah menjadi lebih panjang. Padahal, saat ini, 8/02, masih terhitung musim penghujan. Entah kenapa, sudah dua hari ini hujan tiada turun lagi. Bahkan matahari bersinar terik. Seterik dan sepanas matahari musim kemarau. Beberapa waktu lalu, ketika musim kemarau, terdengar keluh beberapa teman yang tinggal di Surabaya.
“Wah, Surabaya puanass bangeet. Panas yang tak seperti biasanya,” teriaknya di laman fecebook.
Sebaliknya, ketika musim penghujan yang belum juga tuntas harinya ini, hujan turun dengan derasnya. Sederas-derasnya, seperti langit yang muntah. Berikut angina puyuhnya. “Iklim yang ekstrim,” demikian orang-orang, baik di berita dalam media  maupun ketika obrolan lepas.
Pada petang yang masih enggan menjemput gelap itu, kami, saya dan seorang sahabat, berkunjung ke rumah Agus, teman kami. Sepulang dari kantor. Ia tinggal persis di sebuah perkampungan di belakang tempat kerja kami, Dusun Doro, Desa Karangwidoro, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang.
Perkampungan. Ya, karena kantor kami berada di sebuah kawasan perumahan mewah, tepatnya di kawasan Perumahan Tidar, Malang. Dahulu, sebenarnya belum terlalu lama juga, mungkin sekitar sepuluh tahun lalu, kawasan ini tidak lebih dari hamparan belantara ilalang. Tanahnya tidak terlalu subur. Tergolong lahan tadah hujan. Artinya, hanya bisa ditanami di saat musim penghujan. Dengan begitu, mudah dipahami, dengan kemampuan dan ketrampilan pas-pasan, hamparan lahan itu tidak banyak menghasilkan pemasukan. Penjualan tanah menjadi pilihan terbaik.
Kawasan ini mengalami perubahan yang drastis, ketika hamparan lahan ilalang tersebut dibeli oleh seorang konglomerat perumahan. Ilalang, semak belukar, seperti ‘disulap’ menjadi kawasan yang apik, indah, asri dan mewah. Tentu saja, harganya pun cukup ‘mewah’. Rumah tipe 54 (terkecil), saat ini dijual dengan harga Rp 350 juta. Saban pagi, Nampak berseliweran mobil mewah melintas jalan perumahan. Hmm….
Setelah kawasan perumahan ini mulai ramai hunian, tidak sedikit warga sekitar yang bekerja di dalam lingkungan perumahan ini. Beberapa di antaranya bekerja sebagai tenaga keamanan (satpam). Baik satpam di perumahan maupun di kantor (salah satunya di kantor kami). Beberapa lainnya, menjadi petugas kebersihan. Baik di kantor (juga kantor kami), maupun di rumah-rumah warga perumahan sebagai asisten rumah tangga.
Mereka dahulu bekerja sebagai petani, peladang, di atas tanah yang kini menjadi tempatnya bekerja. Beberapa di antaranya, masih setia memelihara ternak, ada yang kambing, ada pula sapi. Pada hamparan ilalang dan belukar di sekitar perumahan itu, mereka merumput. Pada sore hari, Nampak beberapa ibu mendulang sambil momongan anaknya, di seputar taman perumahan.
Seperti banyak kawasan perumahan mewah di lain tempat, tembok pagar menjulang tinggi sengaja dibangun. Mungkin penghuni kawasan ini merasa lebih aman dan nyaman dengan tembok tersebut. Nah, di salah satu sudut wilayah perumahan itu, terdapat sebuah pintu. Pintu besi. Bukan pintu gerbang yang mobil atau truk bisa lewat. Tapi pintu yang hanya cukup dilewati sepeda motor. Itu pun tidak bisa lewat bersamaan. Mesti ada salah satu yang mengalah.
Lewat pintu inilah warga yang bekerja di lingkungan perumahan itu berangkat dan pulang. Termasuk mereka yang mencari pakan bagi ternaknya. Tembok menjulang adalah pembeda antara dua kawasan berbeda bak langit dan bumi. Dua dunia. Pintu adalah lubang kecil dua dunia dapat saling mengintip.
“Dahulu, pintu itu ditutup jam 5 sore,” tutur teman kami, ketika obrolan telah begitu gayeng di rumahnya. Ditemani segelas teh hangat.
“Kalau telat sedikit saja,” nadanya meninggi, “pintu itu sudah ditutup rapat. Digembok.” Kepalanya menggeleng. Senyumnya mengembang. Senyum yang getir.
“Oalahh…yoo wis, mubeng maneh. Mesti berputar turun dari perumahan ini, lalu naik lagi ke desa perkampungan ini,”tak kuasa menahan sesal. Kepalanya masih menggeleng-geleng.
Terbayang, mereka yang bekerja sebagai asisten rumah tangga, petugas kebersihan, pencari rumput untuk ternak, kuli bangunan maupun para ibu yang momongan anaknya, mesti melalui jalan memutar seperti Agus, teman kami itu. Mereka hanya bisa membatinkan resah. Tembok pagar pembatas terlalu tinggi dan angkuh buat mereka. Mungkin, hanya tembok pagar itu pula yang mendengar desah mereka.
Nah, di suatu sore, lanjutnya lagi, para tetangga heboh oleh kabar bahwa pintu besi itu hilang. Dijebol orang. “Seorang tetangga yang menjadi kuli bangunan, dia sempat menyaksikan peristiwa itu.
“Suatu sore, saya melihat ada  seorang tua berjalan. Rambutnya ubanan. Dia mau lewat pintu itu. Tapi pintunya sudah ditutup. Lantas, ia berhenti sejenak. Memandang pintu. Pintu besi itu kemudian diangkat. Diangkat dengan kedua tanganya. Lalu pintu besi itu dilemparkan ke sungai di sebelah pintu itu.”
“Padahal,” lanjutnya mengisahkan, “dulu itu, waktu memasang pintu itu, butuh empat orang untuk mengangkatnya!”
“Nah, waktu mengambil dari pinggir kali, butuh orang empat juga. Saking beratnya!” kali ini sorot mata Agus menajam. Kepalanya Nampak menggeleng lagi.
Tentu saja, kami membutuhkan waktu demi memahami kisah itu. Orang tua, mengangkat dan melemparkan pintu ke kali, seperti melemparkan sandal….
“Kini, pintu itu sudah dipasang kembali. Tapi tidak pernah digembok!”
Subanallah…
Bukit Tidar,
Malang, 10 Februari 2012


Rabu, 26 Oktober 2011

Sidang Wong Agung

Pendapa Agung terlihat sepi. Lenyap sudah keramaian tempo hari. Spanduk, umbul-umbul, poster, terop, serta semua pernik asesoris Sidang Agung telah diturunkan. Hanya sebuah gedung bangunan yang berdiri kokoh menantang waktu. Berteman sepi.

Beberapa nampak tukang taman sedang merapikan tanaman. Sesekali mereka mengatur dan memindahkan bunga-bunga hias nan indah. Sudah beberapa bulan terakhir ini, Kantor Wong Agung berbenah diri. Tembok-tembok luar dan dalam kantor, dicat ulang dengan warna lebih segar cerah. Meski akhirnya (juga sebelumnya), ruang itu lebih banyak diisi kosong tak bertuan. Beberapa pohon pun ditebang, diganti paving stone dan taman sari nan indah permai.
Sementara di bagian halaman lain, Kang Karyo nampak membersihkan halaman Pendapa Agung. Seperti biasanya, seperti sebelumnya…bahkan mungkin juga sesudahnya, Kang Karyo tak turut perhelatan mahatinggi Para Wong Agung. Kang Karyo pun tahu diri. Di bagian mana dia bisa turut ambil bagian. Tentunya, jelas bukan di perhelatan yang salah satunya, melahirkan keputusan nasibnya di masa mendatang.
“Kita harus bijak membuat keputusan. Jangan sampai salah arah. Ini Gereja milik Tuhan!” imbau Tuwan Pandhita Bawon pemimpin Sidang Agung.
“Saya usul, karena sekarang dunia sedang dilanda krisis ekonomi, kita mesti mengadakan penghematan. Ya, penghematan di segala bidang. Kalau perlu, gaji dan tunjangan juga dikurangi,” usul Tuwan Pandhita Seger.
“Setubuh…eh setuju! Termasuk tunjangan kesejahteraan dan biaya asuransi pensiun. Termasuk Pensiun karyawan!” Tuwan Pandhita Geger mendukung.
“Sebentar Tuwan, ngirit ya ngirit, tapi jangan sampai tidak manusiawi. Berapa sih upah para karyawan di kantor kita? Kalau itu masih dikurangi, apalagi juga asuransi pensiun mereka…wah, saya kok tidak bisa membayangkan….” Tuwan Pandhita Pujo menyela. Namun, apalah artinya satu di antara mayoritas suara yang sedang menggemuruh.
Di Pendapa Agung inilah, beberapa keputusan dibuat. Di gedung yang halamannya kini sedang dibersihkan oleh Kang Karyo. Lelaki renta yang telah puluhan tahun, melakukan tanpa menghitung hari. Dia begitu merasa bersalah, apabila musim kemarau datang. Terlambat menyiram, beberapa tanaman mulai melayu. Dahannya jatuh ke tanah. Tidak satu dua kali, semasa kantor libur panjang, dia menyempatkan ke kantor, hanya untuk menyiram tanaman. Ketika bunga mulai mekar, senyumnya pun mengembang.
Pendapa Agung adalah tempat wingit. Sebuah tempat terhormat. Di dalam gedung inilah pertemuan demi pertemuan di gelar meraih masa depan lebih gilang-gemilang jaya. Karena itulah, Kang Karyo seperti tak rela jika halaman Pendapa Agung tak terawat. Bunga taman mesti seger. Sebab hijau indahnya, memberi sumbangan asri kepada setiap insan yang sedang bersilat argumen, demi keputusan terbaik. Kepala boleh panas, namun hati haruslah tetap dingin sejuk. Seperti saat itu, perdebatan pun mulai beringsut memanas…
“Mohon dipertimbangkan, untuk persembahan bagi tenaga pelayan, sudah beberapa tahun tidak ditinjau ulang,” Tuwan Sawut mencoba mengingatkan.
“Iya, terima kasih. Memang tenaga pelayan sebagai tenaga pembina di jemaat, perlu ditinjau ulang besaran persembahan bulanannya. Baiklah, bagaimana kalau demi penghematan, kita tidak menaikkan gaji karyawan kantor. Ini sebuah keputusan yang berat. Keputusan sulit. Namun kita nanti juga meminta pengertian para tenaga karyawan kantor, betapapun kita masih perlu mengencangkan ikat pinggang. Kita tidak perlu takut dan resah, apalagi kuatir mengenai masa depan kita. Toh, pastilah kita percaya, Tuhan Sang Pemilik Hidup kita, pastilah masih sudi memelihara hidup kita,” panjang lebar penjelasan Tuwan Bawon memberi arahan kebijaksanaannya. Para Anggota Sidang Agung pun manggut-manggut.
“Bagaimana, setuju?!”
“Setujuuuu….!”
Dook!!
“Demikian halnya dengan tunjangan hari tua, biaya asuransi bagi para karyawan kantor. Kita kurangi sedikit, ya? Setuju?!”
“Setujuuuu….!!”
Dook!!
Nah, demi meningkatkan pelayanan, kita mesti bijak dalam hal ini! Ingat, sekarang kita sedang dilanda krisis. Krisis dunia yang imbasnya negara kita pun ikut merasakan akibatnya. Dunia usaha sedang lesu. Perekonomian sedang menurun, melambat tingkat pertumbuhannya. Banyak pekerja yang di-PHK. Banyak orang yang letih lesu, berbeban berat. Banyak orang butuh penghiburan. Tidak sedikit warga jemaat kita yang memiliki usaha, sedang dilanda keresahan akan kelangsungan usaha mereka. Kita mesti membantu menguatkan dan mendampingi mereka. Maka dari itu, sebagai tenaga pembina full timer, kita mesti bekerja keras. Nah, anggota Sidang Agung yang terhormat, apakah setuju dengan konsep keputusan yang telah dirumuskan oleh Bendahara dan diajukan oleh Komisi Kesejahteraan ini?!”
“Setujuuuuu….!!”
Dookk!!
“Puji Tuhan, kita sudah menyelesaikan Sidang Wong Agung. Dengan ini sidang kami tutup!”
Dookk!! Dookk!! Dookk….!!
Dentum palu itu terdengar begitu mantap. Marem. Demi meningkatkan motivasi pelayanan para tenaga pembina full timer di Gereja milik Tuhan di Tanah Jawi ini, gaji dan tunjangan keluarga, termasuk biaya asuransi bagi tenaga pembina penuh waktu telah ditingkatkan…
Setelah itu, tiada lagi dentum palu terdengar. Hanya ada gesekan sapu lidi Kang Karyo di atas tanah membersihkan halaman. Debu pun berterbangan. Sementara itu, seperti telah berlangsung beberapa bulan terakhir ini, nampak para tukang taman sibuk mengatur dan merapikan tanaman hias. Di tata rapi mempercantik wajah Kantor Wong Agung. Kantor yang terus berbenah diri, seolah sebentar lagi Sang Pemilik Kantor Gereja milik Tuhan di Tanah Jawi akan segera rawuh.
Selebihnya, hanya daun kering yang gugur ke tanah menerbangkan angin…


Bukit Balewiyata,
Sukun, Malang, Juli 2009
Kang Ndharu

Selasa, 25 Oktober 2011

'Merahimkan' Manusia Kreatif

Di depan mata sebagian besar orang, seonggok limbah daun sayuran di tempat sampah, tak lebih dari barang bekas dan sampah yang harus segera dibuang dan disingkirkan. Di depan seorang anak (kreatif), dia melihat setumpuk bahan pupuk alami yang siap diolah menjadi penerus potensi kehidupan....

Perbincangan mengenai pengembangan kreativitas dalam bidang pendidikan, akhir-akhir ini semakin dirasakan perlu. Hal ini terjadi, setelah dirasakan betul, setelah sekitar tiga dekade, dunia pendidikan ’dikungkung’ oleh selimut tebal ideologi politik. Sistem Pendidikan Nasional dikendalikan dan diawasi secara ketat oleh sistem politik Orde Baru yang otoritarian. Segala sesuatu harus sesuai dengan kehendak penguasa pusat. Padahal dinamika pendidikan, tidak dapat dilepaskan dari dinamika masyarakat bangsa Indonesia yang kian terbuka (inklusif).
Faktor lainnya, pembangunan nasional yang dilakukan, telah melahirkan perubahan tatanan di masyarakat. Pergeseran secara sosiologis pun terjadi dari masyarakat yang bercorak agraris mengarah ke masyarakat industri. Orientasi nilai pun turut pula bergeser. Pendidikan modern (dengan menggunakan fasilitas kelas), dikembangkan sejak zaman Belanda. Nilai kedisiplinan menjadi salah satu tolok ukurnya.
Di dalam konteks masyarakat agraris, pola kepemimpinan bisa saja terpusat (karena lekat dengan pola feodalisme). Seorang pemimpin dianggap sekaligus tokoh panutan. Nah, nilai-nilai kedisiplinan dalam proses balajar pun turut mekar di dalamnya. Akan tetapi, ketika masyarakat sudah bergeser ke arah industri, nilai-nilai egaliter dan demokratis menjadi acuan. Dengan demikian, perubahan pola pendidikan pun menuntut adanya pembaruan.
Alhasil, ketika dunia sudah mulai bergerak menuju perubahan yang menyentuh sendi-sendi dasar kehidupan sehari-hari, dunia pendidikan pun tak bisa berdiam diri. Runtuhnya tembok rezim Orde Baru, telah membawa angin segar, termasuk di dalamnya ke dunia pendidikan. Banyak kalangan yang peduli terhadap dunia pendidikan yang gerah di zaman Orde Baru, mulai merintis ruang pendidikan yang lebih terbuka. Mereka bahkan sering menyebutnya dengan pendidikan alternatif, sebagai anti-tesis terhadap konvensional. Bahkan, salah satunya, perbincangan yang cukup hangat seputar perlu-tidaknya Ujian Nasional!
Di dalam pendidikan konvensional (yang masih mengikuti pola lama, yakni mengandalkan nilai kedisiplinan secara ketat), menuntut ketundukan mutlak dari peserta didik terhadap sang guru. Guru berposisi sebagai pihak yang paling tahu, sedangkan murid atau siswa dianggap ’botol kosong yang perlu dituangi air’. Oleh karena itu, tidak perlu ada pola dialogis dalam proses belajar. Guru memberikan materi pelajaran di depan kelas, seraya memegang penggaris kayu dan berwajah seram. Sementara para peserta didik, harus duduk manis mendengar dan mencatat dengan baik, apapun yang diberikan oleh gurunya di depan kelas.
Akan tetapi, gambaran ini mungkin terlalu ekstrim. Tidak semua guru bertindak seperti itu. Bahkan, besar kemungkinan pula, tidak sedikit guru yang ’tidak betah’ melakukan hal tersebut. Sebagian kecil dari mereka, bahkan ingin menjalin relasi sebagaimana layaknya teman, peserta didik bukan musuh yang harus ditahlukkan. Akan tetapi, pekerjaan adalah tangga kehidupan yang harus dilalui. Meski hati menjerit tak terima, toh hal itu tetap dilakukan juga...
Di pihak lain, pendidikan alternatif berbasis pemahaman bahwa proses pendidikan hanya bisa dilakukan, jika (dan hanya jika) dilakukan dalam suasana yang menyenangkan. Sebab, alam berpikir tidak bisa berkembang, apabila hati tidak merasa riang. Dalam konteks inilah kreativitas muncuat menjadi kata kunci. Guru dan murid menjadi subyek yang bertanggung jawab dalam membangun suasana kelas yang nyaman demi berlangsungnya proses belajar. Hal ini mengandaikan bahwa di dalam proses belajar, posisi guru-murid adalah seimbang. Artinya, guru bukan lagi bertindak sebagai satu-satunya agen yang menetapkan segala kebenaran. Akan tetapi, guru dan murid berada dalam posisi sejajar. Keduanya berposisi sebagai pihak yang haus akan ilmu dan pengetahuan.
Oleh karena itulah, tuntutan terbesar saat ini adalah kerelaan dan kesabaran seorang guru melontarkan pertanyaan eksploratif (menggali). Dengan suasana kelas yang nyaman dan menyenangkan, seseorang akan merasa bebas beraspirasi. Aspirasi ini tentu saja sedikit-banyak lahir dari rasa ingin tahu (sebagaimana sifat dasar peserta didik yang adalah manusia berusia muda). Ada banyak hal yang mereka ingin tahu. Ketika sesuatu dilontarkan, ke sanalah sebenarnya hati dan imajinasinya sedang berjalan. Nah, kesempatan inilah yang menjadi peluang untuk melakukan eksplorasi dengan pertanyaan-pertanyaan yang ’memburu’ rasa ingin tahu.
Di pihak lain, aspirasi itu pun muncul dari stimulus suasana hidup di lingkungan terdekatnya. Artinya, pendidikan kreativitas, memiliki muatan lokalitas yang sangat kental. Semakin dekat dengan alam lingkungan sekitar, semakin besar rasa ingin tahu. Pada gilirannya, ruang imajinasi akan semakin kaya oleh kembara karena proses dialektika secara intens antara dirinya dengan lingkungannya. Nah, pada proses selanjutnya, pertanyaan eksploratif akan membantu peserta didik melakukan proses rasionalisasi terhadap pengalamannya secara sistematis. Dalam konteks inilah, tidak jarang, seorang guru (yang telah berubah berposisi menjadi fasilitator), mendapati lontaran-lontaran tangkas-cerdas dari para peserta didiknya. Bahkan, lontaran itu bagai tombak yang datang mengejutkan, karena belum pernah sama sekali terpikirkan oleh gurunya.
Pertanyaan eksploratif menempatkan peserta didik justru sebagai ilmuwan (scientist). Pengalaman yang bersumber, baik itu pengalaman nyata maupun hasil imajinatif, telah mendapatkan ruang ekspresinya. Bahkan, merasa dihargai karena telah mendapatkan tempat untuk dijadikan bahan atau sumber pengetahuan. Pola dialogis inilah yang menempatkan peserta didik terlibat secara partisipatoris. Guru bukan lagi memonopoli pernyataan yang menjadi acuan kebenaran, akan tetapi antara pernyataan dan pertanyaan menjadi milik bersama antara guru dan peserta didik. Pertanyaan eksploratif biasanya merupakan pertanyaan yang ingin menggali pelbagai asumsi-asumsi dasar.

Anak-anak seusai menggambar bersama. Sekadar mengisi waktu di posko pengungsian, akibat letusan Gunung Merapi, Magelang.

Oleh karena itu, sifatnya bukan salah-benar maupun baik-buruk. Akan tetapi, salah-benar dan baik-buruk merupakan bahan yang dipertimbangkan secara bersama. Permasalahan ditemukan, dibahas dan dicarikan jalan keluarnya secara bersama-sama. Bahkan pula, dalam menjalankan solusi (jalan keluar dari permasalahan) terbaik, guru dan peserta didik melakukan bersama-sama. Dalam tahap ini, kemampuan rasionalitas (akal) berdialektia dan bertumbuh secara intens-bersamaan dengan penghayatan akan nilai-nilai. Dengan begitu, ketajaman dan kecerdasaan otak diharapkan bisa beriringan dengan kedewasaan dalam memandang realitas secara bening tulus penuh ungkapan syukur. Pada pengertian inilah, termaktub manusia yang rela hati memenuhi panggilan jiwanya demi kehidupan lebih baik. Dengan begitu, pendidikan kreatif merupakan ruang bagi setiap peserta didik, menemukan panggilan hidupnya.
’Kebiasaan’ menghadapi pertanyaan eksploratif, merupakan benih bagi bertumbuhnya cara pandang yang kritis. Cara pandang yang selalu ingin mempertanyakan segala sesuatu, meski pun toh hal-hal kecil dan sederhana, terkesan remeh-temeh tak berguna. Dengan budaya berpikir kritis inilah, terlahir manusia yang tak ingin terkungkung oleh satu pola pikir maupun menerima begitu saja realitas yang dihadapi secara given. Sebaliknya, berpikir kritis sama artinya berpikir ’keluar dari kotak’ pemikiran yang ada (thinking out of the box). Nah, pada tahap inilah, manusia kreatif telah dilahirkan...
Di depan mata sebagian besar orang, seonggok limbah daun sayuran di tempat sampah, tak lebih dari sampah yang harus segera dibuang dan disingkirkan. Di depan seorang anak (kreatif), dia melihat setumpuk bahan pupuk alami yang siap diolah menjadi penerus potensi kehidupan....
Trianom Suryandharu
Penulis adalah peserta didik sekolah kreatif alam semesta raya..

Kamis, 13 Oktober 2011

Adegan Jejer

Nafas sedikit terengah-engah. Halaman gereja sudah sepi. Berarti, ibadah sudah dimulai. Terdengar lagu pujian. Setelah tolah-toleh, akhirnya nemu juga tempat duduk. Begitu mendaratkan diri di tempat duduk, perlahan-lahan, mulai mengatur nafas….
Setelah sekadar bersaat teduh, kepala pun mendongak. Mengikuti tatanan liturgi yang sedang berjalan. Khidmat. Tiba-tiba, entahlah, begitu saja melintas. Di depan, nampak ‘adegan jejer’.  
Pendeta sebagai pemimpin ibadah, berada persis di bagian paling depan, di tengah-tengah sebuah bidang. Di samping kanan dan kirinya, berderet para anggota majelis. Pendeta berdiri di balik mimbar tempatnya mewedar nasihat. Menghadap ke umat. Semua titah nasihatnya ditujukan kepada semua warga.
Di samping kanan dan kiri Pendeta. Duduk berderet para anggota majelis. Duduk menghadap ke arah Pendeta. Pendeta dan para anggota majelis, berada pada suatu bidang di depan, biasanya dibuat lebih meninggi, sehingga para terlihat jelas dari tempat duduk paling belakang sekalipun. Sekaligus, menjadi penegasan, siapa mereka sebenarnya.
Dari tempat lebih tinggi inilah, suara Pendeta menebarkan kewibawaan. Mengisi seluruh cakrawala ruang dengan kawicaksanaannya…
***
Dahulu, ketika masih usia kanak, kebetulan di depan rumah ada sebuah tanah agak lapang. Di atas tanah lapang itu, pernah disewa oleh rombongan grup ketroprak tobong. Sebuah kelompok drama/teater tradisional yang mengangkat kisah-kisah kerajaan-kerajaan di Jawa.
Mungkin, saking seringnya nonton, jadi hapal, apalagi detil pembukaannya. Biasanya, begitu layar terkembang, di atas panggung akan segera Nampak ‘adegan jejer’. Sisi panggung sebelah kiri (dari arah pandangan penonton), duduk bersila di bawah para pejabat keraton. Ada pejabat yang duduk di kursi, namun lebih rendah dari satu kursi tertinggi yang ada di hadapannya.
Biasanya, kursi paling tinggi itu ditempati oleh raja. Di samping kursi raja, ada juga kursi milik permaisuri… Duduk di bawah, bersila, para mbok emban, pengurus kerumah-tanggaan kerajaan.
Dramaturgi ketoprak, dimulai persis ketika layar panggung terkembang. Nampaklah jajaran kabinet keraton dalam lakon ketoprak itu. Setelah irama gamelan meninggi, masuklah sang maharaja diradja. Semua yang hadir dalam pisowanan agung menghaturkan sembah dharma baktinya kepada sang maharaja diradja.
Kemudian, pertemuan pisowanan agung pun dimulai. Sang maharaja diradja meminta laporan dari mahapatih (wakil raja atau perdana menteri). Tidak ada yang boleh bicara, tanpa ditanya. Mahapatih pun melaporkan kondisi terkini (dan terpercaya) tentu saja. Mendengar hal itu semua, raja pun mengeluarkan titah kawicaksanaan. Memberi petunjuk, ke arah mana biduk hendak berlayar….
Puncak Bukit Tidar, 13 Oktober 2011

Selasa, 30 Agustus 2011

Setangkep Beras Organik, Secuil Hati Bagi Sesama


  Sore baru saja tiba. Nasi di piring masih mengepul. Hangat. Aroma harum beras pandanwangi, memenuhi ruangan. Wangi. Hanya tahu goreng dan sambal saja di atas meja. Ditemani semangkuk sayur lodeh.
“Memang nikmat.”
Sekepal demi sekepal, nasi menuju mulut. Pulen dan enak. Anak-beranak pun makan dengan lahapnya.
“Ini beras organik,” sang ayah memaparkan, “jadi terasa betul nikmatnya.”
Si Mbarep menatap sang ayah. Secuil tempe mampir ke mulutnya yang mungil.
“Iya, para ibu-ibu petani di Peniwen, mereka menanam beras padi organik. Padi yang tidak dipupuk dengan pupuk kimia, juga disemprot dengan obat kimiawi,” ujarnya berkisah, sesaat melihat sorot mata Si Mbarep yang menuntut penjelasan.
“Lha iya, lha wong racun kok disebut obat!” sang Bunda menimpali.
“Memang, kita ini sudah kadung banyak salah kaprah. Bahan pembasmi hama  pengganggu tanaman, disebut obat. Padahal itu racun!” geram terdengar.
Di dalam sana, ada sebogkah kekuatan yang menyulut geram itu. Bagi Sang Ayah, sedikit banyak, dia memahami pergulatan batin petani, petani jawa khususnya. Pada bukanlah semata tanaman komoditas perdangan. Bukan sebatas itu. Lewat beberapa teman petaninya, dia mendapat pengertian bahwa padi adalah ‘tumbuhan dewata’.
Lewat tanaman inilah manusia Jawa percaya pemeliharaan kehidupan oleh Dewata. Jadi, dengan menanam dan memelihara tanaman padi, sebenarnyalah –jauh di lubuk terdalam sana- memuat penghayatan akan penyelenggaraan Illahi nan agung. Padi, dengan demikian, menjadi lambang kehadiran Sang Penyelenggara Hidup di dalam dunia keseharian.
Penghayatan seperti ini seperti porak-poranda, justru ketika pemerintah lewat kebijakannya (?), menetapkan benih, pupuk dan ‘obat’ semprot hama sebagai elemen dalam menenam padi. Pupuk dan ‘obat’ yang sejatinya adalah bahan kimiawi yang sulit diurai oleh mikroganisme tanah.
“Pa...” sapa si Mbarep dengan sorot matanya.
“Sudah, Nak...?” Sang Bunda bertanya, seraya tangannya berusaha mengangkat piring kosong di depan anaknya. Persis ketika piring mau diangkat, tangah si Mbarep memeganginya.
“Mau nambah.....imbuuhh...?”
Si Mbarep pun mengangguk.
“Tumbeeennn...!” seru sang Ayah. “Gitu doong, makan yang banyak, biar lekas gedhe....hehehee...baguss...” sang Ayah mengacungkan jempolnya
Malam baru saja datang. Acara makan malam pun tuntas sudah. Masing-masing perut telah diisi. Kenyanglah sekeluarga. Di dalam hati, masing-masing berseru dalam ungkapan syukur.  Sang Bunda pun tersenyum puas. Tanpa lauk macam-macam, ternyata makan malam pun bisa terasa nikmat.
“Mangan sing paling enak iku, Cah Ayu, yen lawuhe luwe lan syukur...” teringat wejangan sang Kakek.
“Oh iya, Ayah, kemarin Bu Bambang datang. Dia menanyakan urunan beras untuk acara barik’an atau tasyakuran peringatan hari kemerdekaan.”
“Oh iyaa...teruss...sudah diberikan?”
“Sudah,” pendek saja jawab Sang Bunda.
“Oohh...syukurlahh...” balas Sang Ayah tanpa ekspresi.
“Iya, kemarin sengaja saya ambilkan beras organik kita.”
“Hahh...apaaa?!! Pakai beras organik?!!” sontak melonjak penuh nada tinggi.  “Bagaimana sihh...itu kan beras mahal. Enak! Kokk....?!”
Seulas senyum indah mengembang dari bibir Sang Bunda. Sambil mengelus pundak suami tercinta, Sang Bunda bertutur, “Ayah, beras itu memang enak. Beras organik. Kualitasnya memang baik, jadi enak. Jadi kalau kita berikan untuk acara syukuran, kan ya sudah sepantasnya....Masak untuk diberikan orang lain, bukan yang terbaik...heheee...masih ada kok di belakang...”
Deretan kalimat itu bak air samudera raya. Teduh. Tenang namun menggulung tuntas ego yang berdiri tegap.
“Tak salah kumemilihmu....” Sang Ayah pun berdiri menghampiri isterinya. Sekecup cium mendarat di dahinya.
“Terima kasih, sayang, atas hikmatmu....”

Rawamangun, 30 Agustus 2011