Minggu siang, 26 Mei, Kota Malang diguyur gerimis. Agak deras. Di tengah menikmati suara gemercik air, daun pintu rumah diketuk orang.
“Numpang ngiyup, ya Mas..” Ahaa, ternyata seorang teman. Bersama
istrinya, ia berbasahan dia merapat ke depan rumah.
Setelah berbasa-basi sejenak, sepasang suami-istri ini
mengungkapkan maksud. Mereka sedang menunggu pemilik rumah di samping rumahku. “Kami
hendak melihat rumah, Mas. Siapa tahu cocok,” selorohnya datar saja.
Perbincangan mengalir selancar gerimis siang itu. Rupanya,
mereka sedang ‘berburu’ rumah tinggal. Siang itu, sedang menunggu pemilik rumah
yang diincar itu datang. Di samping rumahku memang ada satu rumah kosong
bertuliskan ‘dijual’.
Tidak banyak yang aku tahu tentang mereka. Sebagian kecil
yang ku tahu, mereka sudah bertahun-tahun tinggal di daerah Mergan. Sang suami
sudah puluhan tahun mempersembahkan diri membantu sebagai tenaga sekretariat di sebuah gereja. Mereka tinggal di rumah miliki gereja tersebut. Konon, pengurus gereja dahulu membeli rumah untuk ditempati keluarganya. Sudah puluhan tahun
silam...
Beberapa bulan lalu, aku sempat dengar, beberapa anggota pengurus
gereja, setuju bahwa rumah tersebut bisa dicicil oleh penghuninya. Ya, hanya
beberapa saja. Sisanya (mungkin lebih banyak jumlahnya) menyatakan tidak
setuju. Mendengar polemik itu, dia merasa tidak nyaman. Diputuskanlah mencari
rumah tinggal baru. Diam diam.
“Kami sudah sempat berkeliling, melihat di beberapa perumahan.
Tapi belum ada yang cocok. Durung sregg..”
“”Termasuk harganya..”
Mereka saling melengkapi.
Hahaaa….
Meledaklah tawa bersama, menimpali gerimis.
Tawa kami diredakan oleh dering telepon genggamnya. Rupanya,
sang empunya rumah sudah datang dan bisa ditemui. Mereka pergi melihat rumah,
menerjang hujan dengan payung.
“Kayaknya rumahnya
lebih kecil dari rumah yang kami tinggali sekarang, Mas…”
“Iya..kami bilang sih, akan menimbang-nimbang lagi…”
Sorot matanya memandangi meja. Tatapan yang di luar kendali
maksud. Apalagi setelah menyebutkan sejumlah angka, harga penawaran rumah
tersebut.
“Kami sekarang tinggal bertuju. Ada saudara juga yang
tinggal bersama kami. Kalau dengan harga segitu, dan kami mesti membuatnya
menjadi dua lantai… yakapa ya…” meluncur saja nada keluh itu.
Sore segera menjelang. Gerimis sudah mereda. Mereka pun
berpamit. Sang suami memakai jas hujan. Istrinya, mengiring di belakangnya,
menyusup masuk ke dalam jas hujan suaminya.
Malamnya, aku ceritakan pada istriku perjumpaan sesore itu.
Sebab istriku kebetulan ke luar rumah mulai siang hingga malam. “Sang suami
itu, lima tahun lagi sudah akan pensiun, lho…”
Berdua, seolah kami terserap diam. Entah mengapa, imajinasi
yang muncul adalah wajah anak-anak mereka yang masih duduk di bangku sekolah
dasar. Mereka berusaha mencari rumah di sekitar daerah Mergan atau Bandulan. Meski
ada nylempit. Selain murah, mereka juga merasa nyaman pergi ke gereja dengan
warga yang masih dikenalnya. Warga yang tidak sedikit menjadi bagian dari
kelompok masyarakat menengah ke bawah.
“Kalau ke gereja ini, kan warganya masih banyak yang setara,
Mas…”
Kalimat terakhir ini sempat tinggal beberapa saat. Ada yang
mengganjalnya lewat begitu saja. Tiba-tiba, teringatlah seraut wajah seorang
sahabat lama. Dia bekerja di sebuah perusahaan di seputar daerah Rungkut,
Surabaya. Tinggal di rumah petak. Rumah hunian para buruh pabrik.
Dia mengaku, akhir-akhir ini sudah jarang beribadah di
gereja. Awalnya, dia berusaha menyembunyikan jawab. Setelah beberapa saat, dia
mengaku,, “Dahulu, saya dan teman-teman masih aktif ke gereja. Ikut kebaktian
dan kegiatan. Tapi sebelum gereja itu dibangun. Setelah dibangun, gereja itu
begitu apik. Lantainya mengkilap.”
“Iya jelas, lha wong marmer kok…” teman di sampingnya menambahi.
Setelah gereja begitu apik, ada banyak warga yang ikut
ibadah di sana. “Awalnya sih senang. Tapi, lama kelamaan, kok terasa yakapa….”
“Warganya banyak yang datang bermobil. Jadi kalau ibadah, jalan
depan gereja penuh…”
Ada kalimat yang tidak tuntas. Menggantung tak tak
terselesaikan….
“Ya, kalau ke gereja pas pulang ke Tulungagung saja. Sambil
tilik keluarga. Anak saya ikut mbahnya di sana. Mungkin, ya tiga bulan sekali…”
Tanah masih basah oleh gerimis. Merayap pelan, rindu rumah
yang tak lagi asing bagi jiwa….
Selamat
bulan Kesaksian dan Pelayanan GKJW 2013
Selamat
merayakan hidup.
Berkah Dalem
Gusti
Bukit Tidar,
29 Mei 2013





