Sore baru saja tiba. Nasi di piring masih mengepul. Hangat. Aroma harum beras pandanwangi, memenuhi ruangan. Wangi. Hanya tahu goreng dan sambal saja di atas meja. Ditemani semangkuk sayur lodeh.
“Memang nikmat.”
Sekepal demi sekepal, nasi menuju mulut. Pulen dan enak. Anak-beranak pun makan dengan lahapnya.
“Ini beras organik,” sang ayah memaparkan, “jadi terasa betul nikmatnya.”
Si Mbarep menatap sang ayah. Secuil tempe mampir ke mulutnya yang mungil.
“Iya, para ibu-ibu petani di Peniwen, mereka menanam beras padi organik. Padi yang tidak dipupuk dengan pupuk kimia, juga disemprot dengan obat kimiawi,” ujarnya berkisah, sesaat melihat sorot mata Si Mbarep yang menuntut penjelasan.
“Lha iya, lha wong racun kok disebut obat!” sang Bunda menimpali.
“Memang, kita ini sudah kadung banyak salah kaprah. Bahan pembasmi hamapengganggu tanaman, disebut obat. Padahal itu racun!” geram terdengar.
Di dalam sana, ada sebogkah kekuatan yang menyulut geram itu. Bagi Sang Ayah, sedikit banyak, dia memahami pergulatan batin petani, petani jawa khususnya. Pada bukanlah semata tanaman komoditas perdangan. Bukan sebatas itu. Lewat beberapa teman petaninya, dia mendapat pengertian bahwa padi adalah ‘tumbuhan dewata’.
Lewat tanaman inilah manusia Jawa percaya pemeliharaan kehidupan oleh Dewata. Jadi, dengan menanam dan memelihara tanaman padi, sebenarnyalah –jauh di lubuk terdalam sana- memuat penghayatan akan penyelenggaraan Illahi nan agung. Padi, dengan demikian, menjadi lambang kehadiran Sang Penyelenggara Hidup di dalam dunia keseharian.
Penghayatan seperti ini seperti porak-poranda, justru ketika pemerintah lewat kebijakannya (?), menetapkan benih, pupuk dan ‘obat’ semprot hama sebagai elemen dalam menenam padi. Pupuk dan ‘obat’ yang sejatinya adalah bahan kimiawi yang sulit diurai oleh mikroganisme tanah.
“Pa...” sapa si Mbarep dengan sorot matanya.
“Sudah, Nak...?” Sang Bunda bertanya, seraya tangannya berusaha mengangkat piring kosong di depan anaknya. Persis ketika piring mau diangkat, tangah si Mbarep memeganginya.
“Mau nambah.....imbuuhh...?”
Si Mbarep pun mengangguk.
“Tumbeeennn...!” seru sang Ayah. “Gitu doong, makan yang banyak, biar lekas gedhe....hehehee...baguss...” sang Ayah mengacungkan jempolnya
Malam baru saja datang. Acara makan malam pun tuntas sudah. Masing-masing perut telah diisi. Kenyanglah sekeluarga. Di dalam hati, masing-masing berseru dalam ungkapan syukur.Sang Bunda pun tersenyum puas. Tanpa lauk macam-macam, ternyata makan malam pun bisa terasa nikmat.
“Mangan sing paling enak iku, Cah Ayu, yen lawuhe luwe lan syukur...” teringat wejangan sang Kakek.
“Oh iya, Ayah, kemarin Bu Bambang datang. Dia menanyakan urunan beras untuk acara barik’an atau tasyakuran peringatan hari kemerdekaan.”
“Oh iyaa...teruss...sudah diberikan?”
“Sudah,” pendek saja jawab Sang Bunda.
“Oohh...syukurlahh...” balas Sang Ayah tanpa ekspresi.
“Iya, kemarin sengaja saya ambilkan beras organik kita.”
“Hahh...apaaa?!! Pakai beras organik?!!” sontak melonjak penuh nada tinggi.“Bagaimana sihh...itu kan beras mahal. Enak! Kokk....?!”
Seulas senyum indah mengembang dari bibir Sang Bunda. Sambil mengelus pundak suami tercinta, Sang Bunda bertutur, “Ayah, beras itu memang enak. Beras organik. Kualitasnya memang baik, jadi enak. Jadi kalau kita berikan untuk acara syukuran, kan ya sudah sepantasnya....Masak untuk diberikan orang lain, bukan yang terbaik...heheee...masih ada kok di belakang...”
Deretan kalimat itu bak air samudera raya. Teduh. Tenang namun menggulung tuntas ego yang berdiri tegap.
“Tak salah kumemilihmu....” Sang Ayah pun berdiri menghampiri isterinya. Sekecup cium mendarat di dahinya.
Siang sedang meradang. Sinar matahari sedang berjaya atas bumi. Keringat masih mengalir. Sudah dua kali mengantar bantuan barang. Penat pun menyapa.
Nampak di kejauhan, pucuk stupa Borobudur. Tegak menuding langit.
Kali ini, sekujur tubuh Borobudur tersaput abu. Putih. Nampak pucat dari kejauhan. Tergelitik penat yang sedang menari, ingin rasanya sekadar mencicipi plesir. Ya, mumpung sedang ada di seputar daerah pariwisata. Apalagi, tugas seharian kan sudah kelar. Masak salah sih, sekadar mampir. Aah, semoga Tuhan gak marah….
Mampirlah serombongan pengantar bantuan bagi para korban erupsi Gunung Merapi. Di halaman parkir, berjejar pedagang barang-barang souvenir. Ada beberapa kios yang sudah buka. Tak menunggu lama, tancap gas lontarkan transaksi. Tawar-menar pun tak terhindarkan.
“Berapa ini, Bu?” seorang teman membuka pintu transaksi.Sepotong kaos oblong dia angkat. Ditempelkan ke badan, mematutkan diri. Rambutnya yang sebahu, terbang dipermainkan angin.
Kembali, seulas senyum, terbit. Hanya senyum. Sambil sorot matanya masih berkilau. Penuh pengharapan.Sejurus kemudian, “Yahh…bisalah, kurang sedikit.”
“Kalau yang ini? Saya pengin memberi oleh-oleh untuk keponakan,” selorohnya begitu saja. Tangannya lincah membolak-balik kaos seukuran anak.
“Kalau itu Rp 20 ribu.” Datar saja. Tak terdengar nadanya menimpali. Biasanya, perempuan yang usianya menuju senja ini, begitu cekatan bersilat harga.
Sepenggal waktu, ada nada kosong menyelinap. Perempuan denganrambut sebahu dan temannya yang memakai kacamata itu, sibuk dengan imajinasi hitung-hitungan atau sibuk membayangkan ekspresi si penerima oleh-oleh. Sementara, ibu penjual, hatinya sedang melafalkan sebuah doa.
“Bu, sudah berapa hari buka?” teman yang berkacama, tiba-tiba membuka perbincangan.
“Baru tiga hari buka,” jawabnya datar. Namun terasa berbeda terdengar. “Tapi ya begitu, sepi…sepi gak ada yang datang. Ada Merapi, jadi ya Borobudur sepi…,” pecah sudah benteng rintihan itu.
Seperti para pedagang lainnya di pelataran itu, mereka telah berhari-hari bergelut dengan abu Merapi. Tutuplah kios yang menjajakan barang suvenir bagi para pelancong. Mata pencaharian mereka.
“Ibu, saya ambil dua kaosuntuk keponakan saya juga. Ini. Jadi semua Rp 40 ribu, ya?” sedetik kemudian, tangannya sudah merogoh kantong. Selembar uang disodorkan.
“Puji Gusti!” serunya hampir tak bersuara.
“Ini kembaliannya. Sudah, ini saya imbuhi satu potong lagi…” ucapnya lagi.
“Matuurrnuwun…”
“Ibu, saya juga ambil tiga potong kaos untuk ponakan saya,” timpal teman yang satunya lagi.Tanpa tawar-menawar.
“Lho, Bu….??!”
“Sudahlah…maturnuwun, sampun kersa tindak mriki….”
Ke dalam setiap tas pembungkus, diselipkan satu potong kaos tambahan. Sebagai imbuh.
Tiba-tiba teringat satu episode pada ujung sore, di daerah Muntilan, Magelang. Seorang Bapak (dilihat dari wajah dan kulitnya, dia nampak sudah berumur lanjut).
"Ini merupakan ucapan terima kasih kami..." ucapnya dalam bahasa Jawa krama inggil, seraya menyodorkan sekeranjang buah salak.
Duduk berdampingan, setelah mengantarkan beberapa bantuan. Tak terasa, 'berhasil' membawa barang bantuan (ya, hanya mengantar, karena memang bukan milik sendiri), menyembulkan 'kebanggaan'. Tembok kebanggaan yang rapuh.
Suatu yang menggoda. Nylonong datang tanpa undangan.
Seraya beristirahat, satu demi satu buah salak mampir ke mulut. Sambil mengobrol singkat di ujung perjumpaan. "Ini panenan buah salak terakhir...setelah itu, kemungkinan besar baru tiga tahun lagi bisa panen," tambahnya pelan.
Kunyahan sempat berhenti sejenak.Mendengarnya, seorang sahabat sempat menolak, "Sudahlah Pak, tidak usah repot-repot...terima kasih," timpalnya.
"Kalau memang panen terakhir, kenapa tidak dijual saja dan hasilnya untuk bekal menuju tiga tahun itu?" bisiknya kepada rombongan pengantar bantuan. Setengah suara saja. Seperti tak ingin didengar oleh si empunya salak. Membiarkan senyap berkelebat.
"Belum tahu, bagaimana ke depan nanti. Tapi yang kami tahu, kami tidak sendirian menghadapinya. Dan kami hanya memiliki buah salak sebagai ucapan terima kasih kami," begitu saja kalimat itu dituturkan. Datar. Membentur dinding sepi.
Tak tahu bagaimana, sepenggal demi sepenggal kalimat itu, seperti sedang menari-nari, persis ketika perjalanan menyusuri hamparan perkebunan salak yang diguyur abu Merapi. Daunnya jatuh ke tanah. Tak kuasa menahan abu. Ambruk sejauh mata memandang....
Tiba-tiba, sorot mata itu menyelinap. Bening. Teduh. Perlahan merontokkan kesadaran yang berdiri congkak…
Dia memberi bukan dari kelimpahan dan kelebihannya....
Sudah seharian dia datang. Bersama dua orang rekannya, dia berangkat dari Blitar tadi malam. Di beranda, seorang Ibu yang nampaknya telah berusia limapuluhan, membuka perbincangan. Pada suatu sore yang gerimis. "Awalnya, anak-anak memang melarang saya berangkat," lontarnya membuka perbincangan. Halaman pertama perkenalan ia singkap. Tanpa nada ketus. Di sela letih setelah seharian beraktivitas sebagai relawan.
"Lha iya, saya berangkat itu juga diberi pesan sama anak-anak dan saudara-saudara," ujar seorang Bapak, rekannya berangkat dari Blitar menambahkan.
Tak menunggu lama, Bapak tadi segera melanjutkan kisahnya. "Saya bilang sama mereka, saya ini pensiunan angkatan, ABRI. Dulu kalau pas dines, kan sering dapat tugas ke daerah bencana. Eehh...tadi baru nyampe, sudah ditelpon lagi sama anak saya. Dia menanyakan kabar saya. Ya, saya jawab saja, saya sehat-sehat saja. Namanya juga anak...." ujarnya berbagi.
Sore perlahan merayap menuju malam.Kemudian, Ibu tadi melanjutkan kisahnya, dari dalam almari, ia mengeluarkan sebuah album foto. Kepada dua anaknya, ditunjukkan foto-foto masa mudanya. "Ini foto Ibu ketika masih muda dulu, turut jadi relawan untuk membantu pengungsi karena banjir. Waktu Gunung Kelud meletus, ibu juga sempat jadi relawan," ujarnya, seraya menunjukkan beberapa foto.
"Nah, ketika Ibu menikah dan punya anak, aktivitas sosial seperti ini sudah tidak Ibu lakukan lagi. Konsen membesarkan dan mendidik kamu. Ketika kalian sudah pada gedhe, anak pertama sudah menikah, Ibu ingin berangkat lagi jadi relawan. Jadi, kalian tidak usah khawatir," nampaknya ia ingin menyakinkan kepada anak-anaknya.
Betapa kuatnya panggilan jiwa itu. Seolah, sudah sekian lama ia pendam. Ketika saat telah datang, tak kuasa lagi ia tahan. Usiapun tidak. Ia pun menurutkan raganya memenuhi panggilan.
Tidak semua anak, begitu saja merelakan orangtuanya berangkat menjadi relawan...sebaliknya, tidak semua orangtua rela hati meluluskan ijin anaknya sekadar jadi relawan sosial...
Ahh, rumah, sekolah, tempat bekerja maupun lingkungan sekitar, rupanya menjadi rahim bagi jiwa yang senantiasa terpanggil berbagi cinta kasih merayakan kehidupan ...
Katur sungkem kagem Bapak Ketut lan Ibu Melan, relawan saking Blitar...
Serpihan Kenangan, 100 Hari Mbak Ratna Indraswari Ibrahim
Pagi itu, 14 Februari 2011, menunggu memang menjadi saat yang mengundang resah. Hari yang biasanya oleh sebagian orang dirayakan sebagai hari kasih saying, Valentin (Valentine Day). Jelas bukan isu politis yang seksi, seperti lazimnya gerakan demonstrasi lainnya. Disepakati bahwa rombongan menuju ke gedung DRPD Kota Malang, jam 8. Beberapa hari sebelumnya, persiapan lagu-lagu untuk demo pun dilakukan.
“Wahh, lagune duduk sing biasane digawe arek-arek demo…hehee…Lagune malah lagu tembang kenangan, tapi lagu yang lirik dan iramanya rodok angel…koyok lagune Chryse sing lawas-lawas iku…” tutur Djaloe, pemetik senar gitar, salah satu musisi pengiringnya. Satunya lagi, akrab disapa Mas Gik, penggesek tali biola. Ya, hanya dua musisi ini saja. Mereka sudah siap sedari 15-20 menit lalu.
Di teras depan, di sebuah rumah di Jalan Diponegoro, Malang, terdengar keras ia menghardik, “Lu…Lu..!! Yakapa se arek-arek iku. Janjian jam 8, sekarang sudah jam 8, malah belum datang. Mau jadi apa itu. Mereka ini arek enom. Generasi muda tidak tepat waktu. Awak’e dewe iki arep berjuang, dudu’ arep mlaku-mlaku rekreasi. Berjuang kok telat, iki yakapa se…ngana arep berjuang gawe wong cilik!!”
Teman-teman yang mau demo, belum banyak yang datang. Beberapa yang sudah datang, ada di belakang. Ada yang masih ngopi, nyamil mengisi perut, sambil gojekan. Bahkan, ada pula yang masih mandi. Suara geram dari teras depan itu, bukan tandingan berarti bagi suara cekikik’an.
Apalagi suara geram itu keluar dari kerongkongan manusia yang bertubuh lunglai. Hampir seluruh hidupnya dihabiskan di atas kursi roda. Tubuhnya rapuh. Namun tidak dengan jiwanya…
“Wiss, ayo berangkat saiki ae…!!” suaranya parau, tapi isinya jelas.
Setelah seseorang masuk rumah memberitahukan, rombongan yang dikenal sebagai ‘para aktivis’ ini pun mulai keluar ruangan. Tidak begitu lama, iring-iringan pun mulai bergerak. Pertama menuju Stasiun Kota Baru. Di depan stasiun inilah, rombongan membagikan beberapa tangkai bunga, sambil bernyanyi. Juga senyum.
Tak begitu lama, sampailah di halaman luar Gedung DPRD Kota Malang. Mereka berhenti di luar pagar, persis di pinggir Alun-alun Bundar. Memilih di bawah kerindangan Pohon Trembesi. Hanya sesekali orasi. Itupun dengan puisi. Selebihnya, ya bernyanyi.
Pagi semakin menuju siang. Satu dua orang mulai datang dengan mikrolet. Ada pula yang mengendarai sepeda motor yang telah dimodifikasi. Ban bagian belakangnya tiga. Ada pula yang body-nya juga dibuat lebih pendek. Ada pula yang turun dari mobil, dari atas kursi roda, diantar keluarganya. Mereka ini adalah anggota paguyuban sebuah perkumpulan atau organisasi orang cacat. Mereka sengaja langsung menuju di halaman Gedung DPRD Kota Malang.
“Awalnya, kami hanya membawa perangkat sound system a la kadarnya saja. Ya peralatan seadanya yang kami miliki. Salonnya juga kecil. Alat musiknya ya hanya biola dan gitar bolong,” tambah Djaloe.
Tapi, tidak lama setelah rombongan datang, lanjut Djaloe lagi, ada saja orang yang bersimpati. Ada seperangkat sound system lengkap. Besar. Halaman muka yang di dekat jalan itu, jadi seperti ada konser. Ramai… Ya ramai orang yang berhenti sekedar menonton, ramai karena orang-orang beryanyi. Lha ora rame yakapa, lha wong wong sing ndik jero gedung, para anggota dewan yang tadinya rapat, hanya inceng-inceng dari cendela, mereka malah keluar. Turun dari lantai II, bergabung dengan rombongan di halaman luar. Lalu ada beberapa yang ikut nyumbang lagu. Ikut bernyanyi.
Pihak aparat keamanan, baik dari petugas Satpol PP maupun Polri, juga berdiri santai, senyam-senyum melihat ‘pertunjukan’ itu. Tak ada aroma permusuhan, saling gontok, bersitegang adu mulut. Tak ada sepanduk berisi kecaman maupun tuntutan. Sebaliknya, lebih mirip kegiatan pentas seni. Bernyanyi, bernyanyi dan bernyanyi bersama.
Di atas panggung sederhana, bergantian para anggota dewan itu bernyanyi. Persis acara pementasan lagu sweet memory. Tak terbayangkan, para orang cacat ini, sepagi itu telah mampu mengajak para wakilnya anggota dewan itu bernyanyi bersama. Gelak tawa memupus jarak. Seolah, anak negeri itu ingin meluberi hari dengan suka cita kasih sayang.
Tak ada jawaban. Hanya senyum. Kalau pun toh ada jawaban, “Ya, dalam rangka hari kasih sayang.” Pendek saja. Sebenarnya, lebih tepat bukan jawaban. Tapi pernyataan agar si penanya berhenti bertanya.
Namun tak jua berhenti si penanya. “Mbak, demo ini tuntutannya apa?”
“Ealaah, yang ditanya sedari tadi, malah cuma senyam-senyum, thok. Lha, kami datang ini tidak untuk menuntut, kok.”
“Lha trus…?”
“Ya wis ngene ae…heheee… Kedatangan kami hanya ingin menghadirkan cinta. Iki lak dina Valentin, to rek…mosok lali…Jadi ya kami ingin mereka tahu bahwa kita ini hendak berbagi kasih sayang…Ini lho, aku sik enek …”
Iki lho, aku sik enek….
Kalimat pendek ini ibarat pucuk gunung es. Inilah saya, aku, inilah kami, para penyandang cacat, para anak bangsa, rakyat pemilik sah negeri ini masih ada. Aku-ku dan aku-mu yang berkumpul menjadi kita. Kita adalah anak bangsa. Masing-masing aku adalah diri, pengejawantahan kehadiran, keber-ada-an. Perwujudan diri yang selama ini seolah dianggap absen, tidak ada. Keber-ada-an (eksistensi) diri yang telah dianggap hilang, tenggelam dalam anonym. Karena dianggap ‘tidak ada’, anonym, akhirnya sosok kedirian menjadi tak perlu diperhatikan dan dipedulikan.
Karena yang ada hanya aku, orang lain tidak ada. Sedangkan di tangan menggenggam kuasa, terserah padaku, apa saja hendak aku ingin perbuat. Begitulah congkak berseru, karena engkau menganggap aku hanya anonym…tidak lagi ada sesama…semua saling meniadakan, saling mengingkari keber-ada-an orang lain.
Hampir saban hari, kepada kita disuguhkan tontonan anarki. Di tengah gelontoran berita seputar aksi demonstrasi, yang lazim disertai amarah, saling umpat, bentrok adu fisik. Adu licik dalam permainan ‘sirkus politik’. Saling perah. Seolah anak bangsa ini sedang hidup di zaman tanpa adab. Zaman kegelapan.
Tiba-tiba, terdengar suara parau dari atas kursi roda. Lemah memang. Tidak dengan isinya. Begitulah, dia hadir, meng-ada…..
***
Dia sempat di rawat di sebuah kamar pavuliun, rumah sakit di dekat rumahnya.
“Lu, endi gitarmu… Awakmu iki, wis dikandani lek mrene iki gawa’a gitar….”
“Mosok oleh, Mbak…lha wong iki rumah sakit haree…mosok arep gitaran ndik kene…”
Agustus. Hembusan angin dinginnya mencubit kulit. Bersama terik panas matahari. Kering. Pucuk daun rumput meranggas. Retakan tanah.
Sayup-sayup suara adzan bulan Ramadhan. Sekadar mematahkan haus, lantas meluapkan ungkapan syukur….
Ramadhan Agustus. Konon penuh hikmat. Di saat seperti inilah, Soekarno-Hatta meneriakkan pekik Kemerdekaan Republik ini.
Setahun sesudahnya, pintu ihktiar juga terbuka bagi warga Jemaat GKJW. Selanjutnya, diperingati sebagai Hari Pembangunan (pernah dirayakan sebagai Hari Kebangunan, sudah diganti lewat Sidang Majelis Agung ke berapa, entah lupa).
Peristiwa ini dipicu, tak lepas dari keberadaan penjajah Jepang. Datang dengan propaganda dan jargon janji manis. “Aku adalah Saudara Tua-mu…Aku adalah sang inspirator bagi kebangkitan,bla..bla…blaaa…”
Setelah janji manis yang ditebarkan tidak mempan, ehh, wajah bengisnya yang muncul. Semua mesti tunduk pada perintah! Suasana pun menjadi serba represif-mencekam. Bahkan, konon, membaca (atau juga memiliki) Alkitab pun, tak boleh. Kalau ketahuan, habislah nyawa. Sebagian anak bangsa ini, ‘kepincut’ akan janji manis. Sebagian lagi, memilih bersikap menolak. Akibatnya, penjara upahnya. Perpecahan dalam tubuh gereja pun, tak dapat dihindarkan.
“Syukurlah ya, Kang, kita akhirnya mampu menyadari bahwa keutuhan persekutuan di dalam Tuhan itu penting dan indah,” di warung Mbok Sri, Kang Truno masih ingin membahas peristiwa di balik Perjamuan Kudus Hari Pembanguna.
“Iya Kang. Perjamuan Kudus Hari Pembangunan memang hendak mengambil spirit dan hikmat dari peristiwa tersebut. Dengan turut di dalam Perjamuan Kudus, kita turut memakan tubuh dan meminum darah Kristus. Tubuh dan darah, kematian sekaligus kehidupan. Penderitaan sekaligus kebahagiaan. Kita diharapkan bisa tetap menjadi Satu Tubuh sebagai Tubuh Kristus di dunia.”
“Rekonsiliasi, maksudnya?” Mas Joni menyahut. “Kita menyesal pernah pecah, itu baik. Kita sadar bahwa perpecahan itu juga tidak baik….makanya, kita butuh rekonsiliasi…keutuhan….”
Bergelanyut ruang kosong. Sepi…
“Terus…?” Kang Jiran penasaran.
“Apanya yang terus?”
“Lha kan, tadi belum selesai…?!”
“Apanya?!”
“Kalimatnya..?!”
“Lho iya tohh…??”
“Lhoo, katanya pecah itu tidak baik?!
“Memang….”
“Beda pendapat, trus padu sampai congkrah, itu jelas tidak baik?!”
“Betuull!”
“Lha trus…kenapa memang?!”
“Ya memang, di mana-mana itu kan yang namanya perpecahan itu bisa menimbulkan ‘tidak baik’. Disharmoni. Namanya juga pecah, ya tidak baik. Piring dan gelas pecah, jelas tidak baik. Lha wong tidak bisa lagi dipakai.”
“Memang….betuul..!”
“Nah, sekarang, masalahnya pecah karena apa?”
“Lho, kan sudah jelas too…karena satu pihak menjadi pengikut penjajah Jepang. Satu pihak, berdikari pegang teguh prinsip, tidak mau ikut Jepang. Satu ikut Jepang, satu tidak mau ikut. Pecah…!”
“Lho, kok jadi penjajah Jepangnya yang salah?!”
“Lha memang, di mana-mana yang namanya penjajah itu kan ya salah. Di mana ada penjajah itu benar?!”
“Iya ya…heheee…”
“Lhoo, tapi kan….gereja jadi pecah”
“Gereja itu pecah kan karena pilihan keputusan dan sikap terhadap penjajah. Kalau pilihan keputusan mengikut penjajah, kan tidak pecah. Atau, kalau semua setuju melawan penjajah, kan tidak pecah…”
“Iya yaa…”
“Tapi kan…kalau mengikut Jepang, berarti mengikut penjajah. Ikut maunya penjajah Jepang. Tunduk pada perintah penjajah Jepang. Bukan tunduk pada perintah Tuhan….”
“Lhadalaahh….tenan too…”
“Masalahnya memang di situ…”
“Kok bisa..?!”
Sepenarik nafas, kopi yang sudah mulai hilang panasnya itu menghangatkan tenggorokan.
“Biar kita bisa tetap mengambil hikmat dari peristiwa sejarah tersebut, kita bersyukur bahwa Tuhan sudah berkenan menyatukan kembali, sekarang ada Perjamuan Kudus.”
“Terusss…”
“Nahh…itu kan sebagai lakon penjajahnya adalah Jepang…itu dulu….dulu….65 tahun laluuu….”
“Nahh….biar gak pecah…sekarang bagaimana….”
“Sekarang??!”
“Iyaa sekarang….apa sekarang tidak ada penjajahan?”
“Oleh Jepang?”
“Lhaa apa Jepang masih menjajah, sekarang?”
“Enggak!”
“Lha iya…”
“Lha iyaa?!”
“Iyaa..lha apa sekarang itu masih ada proses penjajahan?”
“Dijajah itu, ya jelas tidak enak. Sing dijajah kudu melok karepe sing njajah. Harus mengikut apapun kehendak pihak yang menjajah. Harus tunduk! Melawan, ya habis!”
“Iyaa…tapi kan sekarang kita masih bisa beli baju sesuai selera kita. Beli makan sesuai selera juga. Mau nonton tivi, boleh….mau mandi pakai sabun merek apa, baunya apa, tinggal milih…bebas…”
“Dengkuul-mu….! bebas tapi bayar, yoo….”
“Hahaaaa…..”
“Kalau urusan kita hanya soal beli-membeli, mungkin saja bisa seperti itu. Tapi orang dijajah itu kan bisa pula berarti, manusia tanpa kehendak. Manusia tanpa kebebasan. Akibatnya, potensinya tidak bisa berkembang. Orang dijajah, juga diperas potensi kemanusiaannya. Diperas untuk memenuhi kebutuhan pihak penjajah…”
“Sekarang, coba, sampeyan sebagai buruh tani. Kerja seharian, budhal isuk mulih sore. Kalau dihitung-hitung, upah sampeyan itu bagaimana. Bisa gak buat bayar SPP anakmu, beli obat dan berobat kalau istri atau anak kita sakit?”
Sejenak bergelanyut dalam diam. “Wah, kalau begitu, ya sama saja dengan saya Kang Truno. Masio budhal isuk gawe klambi seragam mlipis….sangu ambune parfum wangi, gaji tekan pabrik yo ora nyenggol garis UMR. Sekolah, yo tambah larang. Berobat, yo podo ae…tambah larang…”
“Iyaa Kang. Sing dadi guru yo ngono. Isuk budhal ngajar, sore budhal ngojek…!”
“Tapi Kang, lek ukurane iku ngene….wis pirang tahun, awak’e dewe iku buka sekolah tukang insyur mesin. Ehh, nganti seprene, ora duwe pabrik sepeda motor dewe. Pabrik mobil dewe….”
“Iyo yo…Lho lha iku….sing ndik cedak’e Jakarta iku…”
“Pabrik’e ndik Indonesia, tapi sing duwe dudu’ wong Indonesia….!!”
“Lha berarti, jas buka iket blangkon…”
“Lhaa, yo podo wae alias sami mawon yoo….Lha iku, jarena awak’e dewe iku diparingi sugih sumber daya alam. Enek timah, tembaga, aspal, emas, alas sing amba….minyak bumi….lhaa iku jare ponak’anku yo sing nglola yo wong asing. Awak’e dewe mung trimakne dadi babu’-ne….”
“Lha iyoo…”
“Lha kok adoh-adoh…awak’e dewe iki saben dina kan yo adus karo sikatan, kadang yo karo adus kramas gawe sampo. Umbah-umbah yo gawe sabun detergen….Lha sabun, pasta gigi, sampho, detergen….iku tibake sing akeh awak’e dewe tuku iku tibak’e yo duwek’e wong asing. Awak’e dewe mung dadi buruhe…”
“Yo ora, Kang….yo dadi buruh’e tapi yo dadi sak sing tuku…”
“Gawe ndik kene, buruh sing gawe wong Indonesia…sing tuku yo wong Indonesia, bahan baku sing digawe yo njupuk ndik Indonesia…lhaaa lek bathi, laba….digawa mlebu neng kanthonge sing duwe….”
“Lhoo, tapi iku kan bukan salah orang asingnya juga?! Mereka bisa berbuat seperti itu, karena memang diijinkan. Ora nyalahi aturan..!”
“Lha iku…ikuu….sing kudu digaris-isori…kuandel tur banget….!”
“Weladalahhh…elok tenan….hahaaa…”
“Lhaa yo wis….lha ya memang sekarang ini yang terjadi ya seperti itu….mau apa lagi….?”
“Iyaa…mau bagaimana lagi….?”
Angin malam menyusp. Dingin menggigit. Tiba-tiba…masing-masing sudah tenggelam dalam bilik imajinasinya sendiri-sendiri. Pertanyaan bertubi-tubi dan mengantri jawab itu, ternyata meminta sikap. Menagih pada janji. Menerima atau menolak merupakan jawaban. Tidak menerima ataupun menolak, itu pun juga jawaban.
“Suram. Samar. Semakin jelas Nampak, diri berhadapan dengan diri sendiri. Wajah sendiri yang muncul. Menatap harap.. Tajam. Menunggu jawab….
Tak terbayangkan, sejarah hadir membawa cermin benggala. Di sana muncul wajah para petinggi elit gereja. Kang Jupri yang pejabat pemerintah, pejabat kecamatan, duduk sebagai wakil ketua majelis jemaat. Kang Tomy, pengusaha di desa ini sebagai bendahara. Penyandang dana hampir di setiap kegiatan gerejawi….
Tergiang oleh suara hati. Bertarung, sahut-menyahut…
Sesekali, bangga muncul. Tatkala ada ‘orang ngetop’ yang duduk sebagai petinggi gereja. Atau setidaknya, bangga pula ketika ‘orang ngetop’ itu ternyata warga jemaat….
Rasa kebanggaan yang pasang-surut oleh suara nurani diri…..
“…kalau mengikut Jepang, berarti mengikut penjajah. Ikut maunya penjajah Jepang. Tunduk pada perintah penjajah Jepang. Bukan tunduk pada perintah Tuhan…. Biar kita bisa tetap mengambil hikmat dari peristiwa sejarah tersebut, kita bersyukur bahwa Tuhan sudah berkenan menyatukan kembali, sekarang ada Perjamuan Kudus.”
“Perjamuan Kudus Hari Pembangunan memang hendak mengambil spirit dan hikmat dari peristiwa tersebut. Dengan turut di dalam Perjamuan Kudus, kita turut memakan tubuh dan meminum darah Kristus. Tubuh dan darah, kematian sekaligus kehidupan. Penderitaan sekaligus kebahagiaan. Kita diharapkan bisa tetap menjadi Satu Tubuh sebagai Tubuh Kristus di dunia. Mengikut Dia, berarti turut dalam kehendak-Nya….jangan pernah ada seorang pun yang mengambil demi keuntungan pribadi di dalam setiap pelayanan kepada-Nya…”