Rabu, 10 Agustus 2011

Roti dan Anggur


Menyambut 65 Tahun Hari Pembanguna GKJW
Roti & Anggur

Agustus. Hembusan angin dinginnya mencubit kulit. Bersama terik panas matahari. Kering. Pucuk daun rumput meranggas. Retakan tanah.
Sayup-sayup suara adzan bulan Ramadhan. Sekadar mematahkan haus, lantas meluapkan ungkapan syukur….
Ramadhan Agustus. Konon penuh hikmat. Di saat seperti inilah, Soekarno-Hatta meneriakkan pekik Kemerdekaan Republik ini.
Setahun sesudahnya, pintu ihktiar juga terbuka bagi warga Jemaat GKJW. Selanjutnya, diperingati sebagai Hari Pembangunan (pernah dirayakan sebagai Hari Kebangunan, sudah diganti lewat Sidang Majelis Agung ke berapa, entah lupa).
Peristiwa ini dipicu, tak lepas dari keberadaan penjajah Jepang. Datang dengan propaganda dan jargon janji manis. “Aku adalah Saudara Tua-mu…Aku adalah sang inspirator bagi kebangkitan,  bla..bla…blaaa…”
Setelah janji manis yang ditebarkan tidak mempan, ehh, wajah bengisnya yang muncul. Semua mesti tunduk pada perintah! Suasana pun menjadi serba represif-mencekam. Bahkan, konon, membaca (atau juga memiliki) Alkitab pun, tak boleh. Kalau ketahuan, habislah nyawa. Sebagian anak bangsa ini, ‘kepincut’ akan janji manis. Sebagian lagi, memilih bersikap menolak. Akibatnya, penjara upahnya. Perpecahan dalam tubuh gereja pun, tak dapat dihindarkan.
“Syukurlah ya, Kang, kita akhirnya mampu menyadari bahwa keutuhan persekutuan di dalam Tuhan itu penting dan indah,” di warung Mbok Sri, Kang Truno masih ingin membahas peristiwa di balik Perjamuan Kudus Hari Pembanguna.
“Iya Kang. Perjamuan Kudus Hari Pembangunan memang hendak mengambil spirit dan hikmat dari peristiwa tersebut. Dengan turut di dalam Perjamuan Kudus, kita turut memakan tubuh dan meminum darah Kristus. Tubuh dan darah, kematian sekaligus kehidupan. Penderitaan sekaligus kebahagiaan. Kita diharapkan bisa tetap menjadi Satu Tubuh sebagai Tubuh Kristus di dunia.”
Petang bak’da magrib, bertaburan letusan petasan. Suka cita kanak-kanak menikmati kemenangan seharian, seusai menyantap sajian buka puasa.
“Rekonsiliasi, maksudnya?” Mas Joni menyahut. “Kita menyesal pernah pecah, itu baik. Kita sadar bahwa perpecahan itu juga tidak baik….makanya, kita butuh rekonsiliasi…keutuhan….”
Bergelanyut ruang kosong. Sepi…
“Terus…?” Kang Jiran penasaran.
“Apanya yang terus?”
“Lha kan, tadi belum selesai…?!”
“Apanya?!”
“Kalimatnya..?!”
“Lho iya tohh…??”
“Lhoo, katanya pecah itu tidak baik?!
“Memang….”
“Beda pendapat, trus padu sampai congkrah, itu jelas tidak baik?!”
“Betuull!”
“Lha trus…kenapa memang?!”
“Ya memang, di mana-mana itu kan yang namanya perpecahan itu bisa menimbulkan ‘tidak baik’. Disharmoni. Namanya juga pecah, ya tidak baik. Piring dan gelas pecah, jelas tidak baik. Lha wong tidak bisa lagi dipakai.”
“Memang….betuul..!”
“Nah, sekarang, masalahnya pecah karena apa?”
“Lho, kan sudah jelas too…karena satu pihak menjadi pengikut penjajah Jepang. Satu pihak, berdikari pegang teguh prinsip, tidak mau ikut Jepang. Satu ikut Jepang, satu tidak mau ikut. Pecah…!”
“Lho, kok jadi penjajah Jepangnya yang salah?!”
“Lha memang, di mana-mana yang namanya penjajah itu kan ya salah. Di mana ada penjajah itu benar?!”
“Iya ya…heheee…”
“Lhoo, tapi kan….gereja jadi pecah”
“Gereja itu pecah kan karena pilihan keputusan dan sikap terhadap penjajah. Kalau pilihan keputusan mengikut penjajah, kan tidak pecah. Atau, kalau semua setuju melawan penjajah, kan tidak pecah…”
“Iya yaa…”
“Tapi kan…kalau mengikut Jepang, berarti mengikut penjajah. Ikut maunya penjajah Jepang. Tunduk pada perintah penjajah Jepang. Bukan tunduk pada perintah Tuhan….”
“Lhadalaahh….tenan too…”
“Masalahnya memang di situ…”
“Kok bisa..?!”
Sepenarik nafas, kopi yang sudah mulai hilang panasnya itu menghangatkan tenggorokan.
“Biar kita bisa tetap mengambil hikmat dari peristiwa sejarah tersebut, kita bersyukur bahwa Tuhan sudah berkenan menyatukan kembali, sekarang ada Perjamuan Kudus.”
“Terusss…”
“Nahh…itu kan sebagai lakon penjajahnya adalah Jepang…itu dulu….dulu….65 tahun laluuu….”
 “Nahh….biar gak pecah…sekarang bagaimana….”
“Sekarang??!”
“Iyaa sekarang….apa sekarang tidak ada penjajahan?”
“Oleh Jepang?”
“Lhaa apa Jepang masih menjajah, sekarang?”
“Enggak!”
“Lha iya…”
“Lha iyaa?!”
“Iyaa..lha apa sekarang itu masih ada proses penjajahan?”
“Kalau Jepang, enggak! Apa ada dari bangsa lain?”
“Menurutmu apa ada?!”
“Hmmm….menjajah…menja…jahh…pen..ja..jahh…di…jajah….”
“Dijajah itu, ya jelas tidak enak. Sing dijajah kudu melok karepe sing njajah. Harus mengikut apapun kehendak pihak yang menjajah. Harus tunduk! Melawan, ya habis!”
“Iyaa…tapi kan sekarang kita masih bisa beli baju sesuai selera kita. Beli makan sesuai selera juga. Mau nonton tivi, boleh….mau mandi pakai sabun merek apa, baunya apa, tinggal milih…bebas…”
“Dengkuul-mu….! bebas tapi bayar, yoo….”
“Hahaaaa…..”
“Kalau urusan kita hanya soal beli-membeli, mungkin saja bisa seperti itu. Tapi orang dijajah itu kan bisa pula berarti, manusia tanpa kehendak. Manusia tanpa kebebasan. Akibatnya, potensinya tidak bisa berkembang. Orang dijajah, juga diperas potensi kemanusiaannya. Diperas untuk memenuhi kebutuhan pihak penjajah…”
“Sekarang, coba, sampeyan sebagai buruh tani. Kerja seharian, budhal isuk mulih sore. Kalau dihitung-hitung, upah sampeyan itu bagaimana. Bisa gak buat bayar SPP anakmu, beli obat dan berobat kalau istri atau anak kita sakit?”
Sejenak bergelanyut dalam diam. “Wah, kalau begitu, ya sama saja dengan saya Kang Truno. Masio budhal isuk gawe klambi seragam mlipis….sangu ambune parfum wangi, gaji tekan pabrik yo ora nyenggol garis UMR. Sekolah, yo tambah larang. Berobat, yo podo ae…tambah larang…”
“Iyaa Kang. Sing dadi guru yo ngono. Isuk budhal ngajar, sore budhal ngojek…!”
“Tapi Kang, lek ukurane iku ngene….wis pirang tahun, awak’e dewe iku buka sekolah tukang insyur mesin. Ehh, nganti seprene, ora duwe pabrik sepeda motor dewe. Pabrik mobil dewe….”
“Iyo yo…Lho lha iku….sing ndik cedak’e Jakarta iku…”
“Pabrik’e ndik Indonesia, tapi sing duwe dudu’ wong Indonesia….!!”
“Lha berarti, jas buka iket blangkon…”
“Lhaa, yo podo wae alias sami mawon yoo….Lha iku, jarena awak’e dewe iku diparingi sugih sumber daya alam. Enek timah, tembaga, aspal, emas, alas sing amba….minyak bumi….lhaa iku jare ponak’anku yo sing nglola yo wong asing. Awak’e dewe mung trimakne dadi babu’-ne….”
“Lha iyoo…”
“Lha kok adoh-adoh…awak’e dewe iki saben dina kan yo adus karo sikatan, kadang yo karo adus kramas gawe sampo. Umbah-umbah yo gawe sabun detergen….Lha sabun, pasta gigi, sampho, detergen….iku tibake sing akeh awak’e dewe tuku iku tibak’e yo duwek’e wong asing. Awak’e dewe mung dadi buruhe…”
“Yo ora, Kang….yo dadi buruh’e tapi yo dadi sak sing tuku…”
“Gawe ndik kene, buruh sing gawe wong Indonesia…sing tuku yo wong Indonesia, bahan baku sing digawe yo njupuk ndik Indonesia…lhaaa lek bathi, laba….digawa mlebu neng kanthonge sing duwe….”
“Lhoo, tapi iku kan bukan salah orang asingnya juga?! Mereka bisa berbuat seperti itu, karena memang diijinkan. Ora nyalahi aturan..!”
“Lha iku…ikuu….sing kudu digaris-isori…kuandel tur banget….!”
“Weladalahhh…elok tenan….hahaaa…”
“Lhaa yo wis….lha ya memang sekarang ini yang terjadi ya seperti itu….mau apa lagi….?”
“Iyaa…mau bagaimana lagi….?”
Angin malam menyusp. Dingin menggigit. Tiba-tiba…masing-masing sudah tenggelam dalam bilik imajinasinya sendiri-sendiri. Pertanyaan bertubi-tubi dan mengantri jawab itu, ternyata meminta sikap. Menagih pada janji. Menerima atau menolak merupakan jawaban. Tidak menerima ataupun menolak, itu pun juga jawaban.
“Suram. Samar. Semakin jelas Nampak, diri berhadapan dengan diri sendiri. Wajah sendiri yang muncul. Menatap harap.. Tajam. Menunggu jawab….
Tak terbayangkan, sejarah hadir membawa cermin benggala. Di sana muncul wajah para petinggi elit gereja. Kang Jupri yang pejabat pemerintah, pejabat kecamatan, duduk sebagai wakil ketua majelis jemaat. Kang Tomy, pengusaha di desa ini sebagai bendahara. Penyandang dana hampir di setiap kegiatan gerejawi….
Tergiang oleh suara hati. Bertarung, sahut-menyahut…
Sesekali, bangga muncul. Tatkala ada ‘orang ngetop’ yang duduk sebagai petinggi gereja. Atau setidaknya, bangga pula ketika ‘orang ngetop’ itu ternyata warga jemaat….
Rasa kebanggaan yang pasang-surut oleh suara nurani diri…..
“…kalau mengikut Jepang, berarti mengikut penjajah. Ikut maunya penjajah Jepang. Tunduk pada perintah penjajah Jepang. Bukan tunduk pada perintah Tuhan…. Biar kita bisa tetap mengambil hikmat dari peristiwa sejarah tersebut, kita bersyukur bahwa Tuhan sudah berkenan menyatukan kembali, sekarang ada Perjamuan Kudus.”
“Perjamuan Kudus Hari Pembangunan memang hendak mengambil spirit dan hikmat dari peristiwa tersebut. Dengan turut di dalam Perjamuan Kudus, kita turut memakan tubuh dan meminum darah Kristus. Tubuh dan darah, kematian sekaligus kehidupan. Penderitaan sekaligus kebahagiaan. Kita diharapkan bisa tetap menjadi Satu Tubuh sebagai Tubuh Kristus di dunia. Mengikut Dia, berarti turut dalam kehendak-Nya….jangan pernah ada seorang pun yang mengambil demi keuntungan pribadi di dalam setiap pelayanan kepada-Nya…”


terima kasih atas roti dan anggurnya….
bukit tidar, 08082011

2 komentar:

  1. wegh wegh wegh :) berat isinya .. enteng penyampaiannya ... copy ah .. buat baca" lagi :)

    BalasHapus