(Abu Merapi 3)
Siang sedang meradang. Sinar matahari sedang berjaya atas bumi. Keringat masih mengalir. Sudah dua kali mengantar bantuan barang. Penat pun menyapa.
Nampak di kejauhan, pucuk stupa Borobudur. Tegak menuding langit.
Kali ini, sekujur tubuh Borobudur tersaput abu. Putih. Nampak pucat dari kejauhan. Tergelitik penat yang sedang menari, ingin rasanya sekadar mencicipi plesir. Ya, mumpung sedang ada di seputar daerah pariwisata. Apalagi, tugas seharian kan sudah kelar. Masak salah sih, sekadar mampir. Aah, semoga Tuhan gak marah….
Mampirlah serombongan pengantar bantuan bagi para korban erupsi Gunung Merapi. Di halaman parkir, berjejar pedagang barang-barang souvenir. Ada beberapa kios yang sudah buka. Tak menunggu lama, tancap gas lontarkan transaksi. Tawar-menar pun tak terhindarkan.
“Berapa ini, Bu?” seorang teman membuka pintu transaksi. Sepotong kaos oblong dia angkat. Ditempelkan ke badan, mematutkan diri. Rambutnya yang sebahu, terbang dipermainkan angin.
“Rp 35 ribu.” Seulas senyum terbit. Sorot matanya berkilau.
“Nggak bisa kurang?” sergapnya menawar.
Kembali, seulas senyum, terbit. Hanya senyum. Sambil sorot matanya masih berkilau. Penuh pengharapan.Sejurus kemudian, “Yahh…bisalah, kurang sedikit.”
“Kalau yang ini? Saya pengin memberi oleh-oleh untuk keponakan,” selorohnya begitu saja. Tangannya lincah membolak-balik kaos seukuran anak.
“Kalau itu Rp 20 ribu.” Datar saja. Tak terdengar nadanya menimpali. Biasanya, perempuan yang usianya menuju senja ini, begitu cekatan bersilat harga.
Sepenggal waktu, ada nada kosong menyelinap. Perempuan dengan rambut sebahu dan temannya yang memakai kacamata itu, sibuk dengan imajinasi hitung-hitungan atau sibuk membayangkan ekspresi si penerima oleh-oleh. Sementara, ibu penjual, hatinya sedang melafalkan sebuah doa.
“Bu, sudah berapa hari buka?” teman yang berkacama, tiba-tiba membuka perbincangan.
“Baru tiga hari buka,” jawabnya datar. Namun terasa berbeda terdengar. “Tapi ya begitu, sepi…sepi gak ada yang datang. Ada Merapi, jadi ya Borobudur sepi…,” pecah sudah benteng rintihan itu.
Seperti para pedagang lainnya di pelataran itu, mereka telah berhari-hari bergelut dengan abu Merapi. Tutuplah kios yang menjajakan barang suvenir bagi para pelancong. Mata pencaharian mereka.
“Ibu, saya ambil dua kaos untuk keponakan saya juga. Ini. Jadi semua Rp 40 ribu, ya?” sedetik kemudian, tangannya sudah merogoh kantong. Selembar uang disodorkan.
“Puji Gusti!” serunya hampir tak bersuara.
“Ini kembaliannya. Sudah, ini saya imbuhi satu potong lagi…” ucapnya lagi.
“Matuurrnuwun…”
“Ibu, saya juga ambil tiga potong kaos untuk ponakan saya,” timpal teman yang satunya lagi. Tanpa tawar-menawar.
“Lho, Bu….??!”
“Sudahlah…maturnuwun, sampun kersa tindak mriki….”
Ke dalam setiap tas pembungkus, diselipkan satu potong kaos tambahan. Sebagai imbuh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar