Jumat, 12 Agustus 2011

Rahim Pendidikan Karakter


Abu Merapi (1)


Sudah seharian dia datang. Bersama dua orang rekannya, dia berangkat dari Blitar tadi malam. Di beranda, seorang Ibu yang nampaknya telah berusia limapuluhan, membuka perbincangan. Pada suatu sore yang gerimis. "Awalnya, anak-anak memang melarang saya berangkat," lontarnya membuka perbincangan. Halaman pertama perkenalan ia singkap. Tanpa nada ketus. Di sela letih setelah seharian beraktivitas sebagai relawan.
"Lha iya, saya berangkat itu juga diberi pesan sama anak-anak dan saudara-saudara," ujar seorang Bapak, rekannya berangkat dari Blitar menambahkan.
Tak menunggu lama, Bapak tadi segera melanjutkan kisahnya. "Saya bilang sama mereka, saya ini pensiunan angkatan, ABRI. Dulu kalau pas dines, kan sering dapat tugas ke daerah bencana. Eehh...tadi baru nyampe, sudah ditelpon lagi sama anak saya. Dia menanyakan kabar saya. Ya, saya jawab saja, saya sehat-sehat saja. Namanya juga anak...." ujarnya berbagi.
Sore perlahan merayap menuju malam.Kemudian, Ibu tadi melanjutkan kisahnya, dari dalam almari, ia mengeluarkan sebuah album foto. Kepada dua anaknya, ditunjukkan foto-foto masa mudanya. "Ini foto Ibu ketika masih muda dulu, turut jadi relawan untuk membantu pengungsi karena banjir. Waktu Gunung Kelud meletus, ibu juga sempat jadi relawan," ujarnya, seraya menunjukkan beberapa foto.
"Nah, ketika Ibu menikah dan punya anak, aktivitas sosial seperti ini sudah tidak Ibu lakukan lagi. Konsen membesarkan dan mendidik kamu. Ketika kalian sudah pada gedhe, anak pertama sudah menikah, Ibu ingin berangkat lagi jadi relawan. Jadi, kalian tidak usah khawatir," nampaknya ia ingin menyakinkan kepada anak-anaknya.
Betapa kuatnya panggilan jiwa itu. Seolah, sudah sekian lama ia pendam. Ketika saat telah datang, tak kuasa lagi ia tahan. Usiapun tidak. Ia pun menurutkan raganya memenuhi panggilan.
Tidak semua anak, begitu saja merelakan orangtuanya berangkat menjadi relawan...sebaliknya, tidak semua orangtua rela hati meluluskan ijin anaknya sekadar jadi relawan sosial...
Ahh, rumah, sekolah, tempat bekerja maupun lingkungan sekitar, rupanya menjadi rahim bagi jiwa yang senantiasa terpanggil berbagi cinta kasih merayakan kehidupan ...
Katur sungkem kagem Bapak Ketut lan Ibu Melan, relawan saking Blitar...
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar