Rabu, 26 Oktober 2011

Sidang Wong Agung

Pendapa Agung terlihat sepi. Lenyap sudah keramaian tempo hari. Spanduk, umbul-umbul, poster, terop, serta semua pernik asesoris Sidang Agung telah diturunkan. Hanya sebuah gedung bangunan yang berdiri kokoh menantang waktu. Berteman sepi.

Beberapa nampak tukang taman sedang merapikan tanaman. Sesekali mereka mengatur dan memindahkan bunga-bunga hias nan indah. Sudah beberapa bulan terakhir ini, Kantor Wong Agung berbenah diri. Tembok-tembok luar dan dalam kantor, dicat ulang dengan warna lebih segar cerah. Meski akhirnya (juga sebelumnya), ruang itu lebih banyak diisi kosong tak bertuan. Beberapa pohon pun ditebang, diganti paving stone dan taman sari nan indah permai.
Sementara di bagian halaman lain, Kang Karyo nampak membersihkan halaman Pendapa Agung. Seperti biasanya, seperti sebelumnya…bahkan mungkin juga sesudahnya, Kang Karyo tak turut perhelatan mahatinggi Para Wong Agung. Kang Karyo pun tahu diri. Di bagian mana dia bisa turut ambil bagian. Tentunya, jelas bukan di perhelatan yang salah satunya, melahirkan keputusan nasibnya di masa mendatang.
“Kita harus bijak membuat keputusan. Jangan sampai salah arah. Ini Gereja milik Tuhan!” imbau Tuwan Pandhita Bawon pemimpin Sidang Agung.
“Saya usul, karena sekarang dunia sedang dilanda krisis ekonomi, kita mesti mengadakan penghematan. Ya, penghematan di segala bidang. Kalau perlu, gaji dan tunjangan juga dikurangi,” usul Tuwan Pandhita Seger.
“Setubuh…eh setuju! Termasuk tunjangan kesejahteraan dan biaya asuransi pensiun. Termasuk Pensiun karyawan!” Tuwan Pandhita Geger mendukung.
“Sebentar Tuwan, ngirit ya ngirit, tapi jangan sampai tidak manusiawi. Berapa sih upah para karyawan di kantor kita? Kalau itu masih dikurangi, apalagi juga asuransi pensiun mereka…wah, saya kok tidak bisa membayangkan….” Tuwan Pandhita Pujo menyela. Namun, apalah artinya satu di antara mayoritas suara yang sedang menggemuruh.
Di Pendapa Agung inilah, beberapa keputusan dibuat. Di gedung yang halamannya kini sedang dibersihkan oleh Kang Karyo. Lelaki renta yang telah puluhan tahun, melakukan tanpa menghitung hari. Dia begitu merasa bersalah, apabila musim kemarau datang. Terlambat menyiram, beberapa tanaman mulai melayu. Dahannya jatuh ke tanah. Tidak satu dua kali, semasa kantor libur panjang, dia menyempatkan ke kantor, hanya untuk menyiram tanaman. Ketika bunga mulai mekar, senyumnya pun mengembang.
Pendapa Agung adalah tempat wingit. Sebuah tempat terhormat. Di dalam gedung inilah pertemuan demi pertemuan di gelar meraih masa depan lebih gilang-gemilang jaya. Karena itulah, Kang Karyo seperti tak rela jika halaman Pendapa Agung tak terawat. Bunga taman mesti seger. Sebab hijau indahnya, memberi sumbangan asri kepada setiap insan yang sedang bersilat argumen, demi keputusan terbaik. Kepala boleh panas, namun hati haruslah tetap dingin sejuk. Seperti saat itu, perdebatan pun mulai beringsut memanas…
“Mohon dipertimbangkan, untuk persembahan bagi tenaga pelayan, sudah beberapa tahun tidak ditinjau ulang,” Tuwan Sawut mencoba mengingatkan.
“Iya, terima kasih. Memang tenaga pelayan sebagai tenaga pembina di jemaat, perlu ditinjau ulang besaran persembahan bulanannya. Baiklah, bagaimana kalau demi penghematan, kita tidak menaikkan gaji karyawan kantor. Ini sebuah keputusan yang berat. Keputusan sulit. Namun kita nanti juga meminta pengertian para tenaga karyawan kantor, betapapun kita masih perlu mengencangkan ikat pinggang. Kita tidak perlu takut dan resah, apalagi kuatir mengenai masa depan kita. Toh, pastilah kita percaya, Tuhan Sang Pemilik Hidup kita, pastilah masih sudi memelihara hidup kita,” panjang lebar penjelasan Tuwan Bawon memberi arahan kebijaksanaannya. Para Anggota Sidang Agung pun manggut-manggut.
“Bagaimana, setuju?!”
“Setujuuuu….!”
Dook!!
“Demikian halnya dengan tunjangan hari tua, biaya asuransi bagi para karyawan kantor. Kita kurangi sedikit, ya? Setuju?!”
“Setujuuuu….!!”
Dook!!
Nah, demi meningkatkan pelayanan, kita mesti bijak dalam hal ini! Ingat, sekarang kita sedang dilanda krisis. Krisis dunia yang imbasnya negara kita pun ikut merasakan akibatnya. Dunia usaha sedang lesu. Perekonomian sedang menurun, melambat tingkat pertumbuhannya. Banyak pekerja yang di-PHK. Banyak orang yang letih lesu, berbeban berat. Banyak orang butuh penghiburan. Tidak sedikit warga jemaat kita yang memiliki usaha, sedang dilanda keresahan akan kelangsungan usaha mereka. Kita mesti membantu menguatkan dan mendampingi mereka. Maka dari itu, sebagai tenaga pembina full timer, kita mesti bekerja keras. Nah, anggota Sidang Agung yang terhormat, apakah setuju dengan konsep keputusan yang telah dirumuskan oleh Bendahara dan diajukan oleh Komisi Kesejahteraan ini?!”
“Setujuuuuu….!!”
Dookk!!
“Puji Tuhan, kita sudah menyelesaikan Sidang Wong Agung. Dengan ini sidang kami tutup!”
Dookk!! Dookk!! Dookk….!!
Dentum palu itu terdengar begitu mantap. Marem. Demi meningkatkan motivasi pelayanan para tenaga pembina full timer di Gereja milik Tuhan di Tanah Jawi ini, gaji dan tunjangan keluarga, termasuk biaya asuransi bagi tenaga pembina penuh waktu telah ditingkatkan…
Setelah itu, tiada lagi dentum palu terdengar. Hanya ada gesekan sapu lidi Kang Karyo di atas tanah membersihkan halaman. Debu pun berterbangan. Sementara itu, seperti telah berlangsung beberapa bulan terakhir ini, nampak para tukang taman sibuk mengatur dan merapikan tanaman hias. Di tata rapi mempercantik wajah Kantor Wong Agung. Kantor yang terus berbenah diri, seolah sebentar lagi Sang Pemilik Kantor Gereja milik Tuhan di Tanah Jawi akan segera rawuh.
Selebihnya, hanya daun kering yang gugur ke tanah menerbangkan angin…


Bukit Balewiyata,
Sukun, Malang, Juli 2009
Kang Ndharu

Selasa, 25 Oktober 2011

'Merahimkan' Manusia Kreatif

Di depan mata sebagian besar orang, seonggok limbah daun sayuran di tempat sampah, tak lebih dari barang bekas dan sampah yang harus segera dibuang dan disingkirkan. Di depan seorang anak (kreatif), dia melihat setumpuk bahan pupuk alami yang siap diolah menjadi penerus potensi kehidupan....

Perbincangan mengenai pengembangan kreativitas dalam bidang pendidikan, akhir-akhir ini semakin dirasakan perlu. Hal ini terjadi, setelah dirasakan betul, setelah sekitar tiga dekade, dunia pendidikan ’dikungkung’ oleh selimut tebal ideologi politik. Sistem Pendidikan Nasional dikendalikan dan diawasi secara ketat oleh sistem politik Orde Baru yang otoritarian. Segala sesuatu harus sesuai dengan kehendak penguasa pusat. Padahal dinamika pendidikan, tidak dapat dilepaskan dari dinamika masyarakat bangsa Indonesia yang kian terbuka (inklusif).
Faktor lainnya, pembangunan nasional yang dilakukan, telah melahirkan perubahan tatanan di masyarakat. Pergeseran secara sosiologis pun terjadi dari masyarakat yang bercorak agraris mengarah ke masyarakat industri. Orientasi nilai pun turut pula bergeser. Pendidikan modern (dengan menggunakan fasilitas kelas), dikembangkan sejak zaman Belanda. Nilai kedisiplinan menjadi salah satu tolok ukurnya.
Di dalam konteks masyarakat agraris, pola kepemimpinan bisa saja terpusat (karena lekat dengan pola feodalisme). Seorang pemimpin dianggap sekaligus tokoh panutan. Nah, nilai-nilai kedisiplinan dalam proses balajar pun turut mekar di dalamnya. Akan tetapi, ketika masyarakat sudah bergeser ke arah industri, nilai-nilai egaliter dan demokratis menjadi acuan. Dengan demikian, perubahan pola pendidikan pun menuntut adanya pembaruan.
Alhasil, ketika dunia sudah mulai bergerak menuju perubahan yang menyentuh sendi-sendi dasar kehidupan sehari-hari, dunia pendidikan pun tak bisa berdiam diri. Runtuhnya tembok rezim Orde Baru, telah membawa angin segar, termasuk di dalamnya ke dunia pendidikan. Banyak kalangan yang peduli terhadap dunia pendidikan yang gerah di zaman Orde Baru, mulai merintis ruang pendidikan yang lebih terbuka. Mereka bahkan sering menyebutnya dengan pendidikan alternatif, sebagai anti-tesis terhadap konvensional. Bahkan, salah satunya, perbincangan yang cukup hangat seputar perlu-tidaknya Ujian Nasional!
Di dalam pendidikan konvensional (yang masih mengikuti pola lama, yakni mengandalkan nilai kedisiplinan secara ketat), menuntut ketundukan mutlak dari peserta didik terhadap sang guru. Guru berposisi sebagai pihak yang paling tahu, sedangkan murid atau siswa dianggap ’botol kosong yang perlu dituangi air’. Oleh karena itu, tidak perlu ada pola dialogis dalam proses belajar. Guru memberikan materi pelajaran di depan kelas, seraya memegang penggaris kayu dan berwajah seram. Sementara para peserta didik, harus duduk manis mendengar dan mencatat dengan baik, apapun yang diberikan oleh gurunya di depan kelas.
Akan tetapi, gambaran ini mungkin terlalu ekstrim. Tidak semua guru bertindak seperti itu. Bahkan, besar kemungkinan pula, tidak sedikit guru yang ’tidak betah’ melakukan hal tersebut. Sebagian kecil dari mereka, bahkan ingin menjalin relasi sebagaimana layaknya teman, peserta didik bukan musuh yang harus ditahlukkan. Akan tetapi, pekerjaan adalah tangga kehidupan yang harus dilalui. Meski hati menjerit tak terima, toh hal itu tetap dilakukan juga...
Di pihak lain, pendidikan alternatif berbasis pemahaman bahwa proses pendidikan hanya bisa dilakukan, jika (dan hanya jika) dilakukan dalam suasana yang menyenangkan. Sebab, alam berpikir tidak bisa berkembang, apabila hati tidak merasa riang. Dalam konteks inilah kreativitas muncuat menjadi kata kunci. Guru dan murid menjadi subyek yang bertanggung jawab dalam membangun suasana kelas yang nyaman demi berlangsungnya proses belajar. Hal ini mengandaikan bahwa di dalam proses belajar, posisi guru-murid adalah seimbang. Artinya, guru bukan lagi bertindak sebagai satu-satunya agen yang menetapkan segala kebenaran. Akan tetapi, guru dan murid berada dalam posisi sejajar. Keduanya berposisi sebagai pihak yang haus akan ilmu dan pengetahuan.
Oleh karena itulah, tuntutan terbesar saat ini adalah kerelaan dan kesabaran seorang guru melontarkan pertanyaan eksploratif (menggali). Dengan suasana kelas yang nyaman dan menyenangkan, seseorang akan merasa bebas beraspirasi. Aspirasi ini tentu saja sedikit-banyak lahir dari rasa ingin tahu (sebagaimana sifat dasar peserta didik yang adalah manusia berusia muda). Ada banyak hal yang mereka ingin tahu. Ketika sesuatu dilontarkan, ke sanalah sebenarnya hati dan imajinasinya sedang berjalan. Nah, kesempatan inilah yang menjadi peluang untuk melakukan eksplorasi dengan pertanyaan-pertanyaan yang ’memburu’ rasa ingin tahu.
Di pihak lain, aspirasi itu pun muncul dari stimulus suasana hidup di lingkungan terdekatnya. Artinya, pendidikan kreativitas, memiliki muatan lokalitas yang sangat kental. Semakin dekat dengan alam lingkungan sekitar, semakin besar rasa ingin tahu. Pada gilirannya, ruang imajinasi akan semakin kaya oleh kembara karena proses dialektika secara intens antara dirinya dengan lingkungannya. Nah, pada proses selanjutnya, pertanyaan eksploratif akan membantu peserta didik melakukan proses rasionalisasi terhadap pengalamannya secara sistematis. Dalam konteks inilah, tidak jarang, seorang guru (yang telah berubah berposisi menjadi fasilitator), mendapati lontaran-lontaran tangkas-cerdas dari para peserta didiknya. Bahkan, lontaran itu bagai tombak yang datang mengejutkan, karena belum pernah sama sekali terpikirkan oleh gurunya.
Pertanyaan eksploratif menempatkan peserta didik justru sebagai ilmuwan (scientist). Pengalaman yang bersumber, baik itu pengalaman nyata maupun hasil imajinatif, telah mendapatkan ruang ekspresinya. Bahkan, merasa dihargai karena telah mendapatkan tempat untuk dijadikan bahan atau sumber pengetahuan. Pola dialogis inilah yang menempatkan peserta didik terlibat secara partisipatoris. Guru bukan lagi memonopoli pernyataan yang menjadi acuan kebenaran, akan tetapi antara pernyataan dan pertanyaan menjadi milik bersama antara guru dan peserta didik. Pertanyaan eksploratif biasanya merupakan pertanyaan yang ingin menggali pelbagai asumsi-asumsi dasar.

Anak-anak seusai menggambar bersama. Sekadar mengisi waktu di posko pengungsian, akibat letusan Gunung Merapi, Magelang.

Oleh karena itu, sifatnya bukan salah-benar maupun baik-buruk. Akan tetapi, salah-benar dan baik-buruk merupakan bahan yang dipertimbangkan secara bersama. Permasalahan ditemukan, dibahas dan dicarikan jalan keluarnya secara bersama-sama. Bahkan pula, dalam menjalankan solusi (jalan keluar dari permasalahan) terbaik, guru dan peserta didik melakukan bersama-sama. Dalam tahap ini, kemampuan rasionalitas (akal) berdialektia dan bertumbuh secara intens-bersamaan dengan penghayatan akan nilai-nilai. Dengan begitu, ketajaman dan kecerdasaan otak diharapkan bisa beriringan dengan kedewasaan dalam memandang realitas secara bening tulus penuh ungkapan syukur. Pada pengertian inilah, termaktub manusia yang rela hati memenuhi panggilan jiwanya demi kehidupan lebih baik. Dengan begitu, pendidikan kreatif merupakan ruang bagi setiap peserta didik, menemukan panggilan hidupnya.
’Kebiasaan’ menghadapi pertanyaan eksploratif, merupakan benih bagi bertumbuhnya cara pandang yang kritis. Cara pandang yang selalu ingin mempertanyakan segala sesuatu, meski pun toh hal-hal kecil dan sederhana, terkesan remeh-temeh tak berguna. Dengan budaya berpikir kritis inilah, terlahir manusia yang tak ingin terkungkung oleh satu pola pikir maupun menerima begitu saja realitas yang dihadapi secara given. Sebaliknya, berpikir kritis sama artinya berpikir ’keluar dari kotak’ pemikiran yang ada (thinking out of the box). Nah, pada tahap inilah, manusia kreatif telah dilahirkan...
Di depan mata sebagian besar orang, seonggok limbah daun sayuran di tempat sampah, tak lebih dari sampah yang harus segera dibuang dan disingkirkan. Di depan seorang anak (kreatif), dia melihat setumpuk bahan pupuk alami yang siap diolah menjadi penerus potensi kehidupan....
Trianom Suryandharu
Penulis adalah peserta didik sekolah kreatif alam semesta raya..

Kamis, 13 Oktober 2011

Adegan Jejer

Nafas sedikit terengah-engah. Halaman gereja sudah sepi. Berarti, ibadah sudah dimulai. Terdengar lagu pujian. Setelah tolah-toleh, akhirnya nemu juga tempat duduk. Begitu mendaratkan diri di tempat duduk, perlahan-lahan, mulai mengatur nafas….
Setelah sekadar bersaat teduh, kepala pun mendongak. Mengikuti tatanan liturgi yang sedang berjalan. Khidmat. Tiba-tiba, entahlah, begitu saja melintas. Di depan, nampak ‘adegan jejer’.  
Pendeta sebagai pemimpin ibadah, berada persis di bagian paling depan, di tengah-tengah sebuah bidang. Di samping kanan dan kirinya, berderet para anggota majelis. Pendeta berdiri di balik mimbar tempatnya mewedar nasihat. Menghadap ke umat. Semua titah nasihatnya ditujukan kepada semua warga.
Di samping kanan dan kiri Pendeta. Duduk berderet para anggota majelis. Duduk menghadap ke arah Pendeta. Pendeta dan para anggota majelis, berada pada suatu bidang di depan, biasanya dibuat lebih meninggi, sehingga para terlihat jelas dari tempat duduk paling belakang sekalipun. Sekaligus, menjadi penegasan, siapa mereka sebenarnya.
Dari tempat lebih tinggi inilah, suara Pendeta menebarkan kewibawaan. Mengisi seluruh cakrawala ruang dengan kawicaksanaannya…
***
Dahulu, ketika masih usia kanak, kebetulan di depan rumah ada sebuah tanah agak lapang. Di atas tanah lapang itu, pernah disewa oleh rombongan grup ketroprak tobong. Sebuah kelompok drama/teater tradisional yang mengangkat kisah-kisah kerajaan-kerajaan di Jawa.
Mungkin, saking seringnya nonton, jadi hapal, apalagi detil pembukaannya. Biasanya, begitu layar terkembang, di atas panggung akan segera Nampak ‘adegan jejer’. Sisi panggung sebelah kiri (dari arah pandangan penonton), duduk bersila di bawah para pejabat keraton. Ada pejabat yang duduk di kursi, namun lebih rendah dari satu kursi tertinggi yang ada di hadapannya.
Biasanya, kursi paling tinggi itu ditempati oleh raja. Di samping kursi raja, ada juga kursi milik permaisuri… Duduk di bawah, bersila, para mbok emban, pengurus kerumah-tanggaan kerajaan.
Dramaturgi ketoprak, dimulai persis ketika layar panggung terkembang. Nampaklah jajaran kabinet keraton dalam lakon ketoprak itu. Setelah irama gamelan meninggi, masuklah sang maharaja diradja. Semua yang hadir dalam pisowanan agung menghaturkan sembah dharma baktinya kepada sang maharaja diradja.
Kemudian, pertemuan pisowanan agung pun dimulai. Sang maharaja diradja meminta laporan dari mahapatih (wakil raja atau perdana menteri). Tidak ada yang boleh bicara, tanpa ditanya. Mahapatih pun melaporkan kondisi terkini (dan terpercaya) tentu saja. Mendengar hal itu semua, raja pun mengeluarkan titah kawicaksanaan. Memberi petunjuk, ke arah mana biduk hendak berlayar….
Puncak Bukit Tidar, 13 Oktober 2011

Selasa, 30 Agustus 2011

Setangkep Beras Organik, Secuil Hati Bagi Sesama


  Sore baru saja tiba. Nasi di piring masih mengepul. Hangat. Aroma harum beras pandanwangi, memenuhi ruangan. Wangi. Hanya tahu goreng dan sambal saja di atas meja. Ditemani semangkuk sayur lodeh.
“Memang nikmat.”
Sekepal demi sekepal, nasi menuju mulut. Pulen dan enak. Anak-beranak pun makan dengan lahapnya.
“Ini beras organik,” sang ayah memaparkan, “jadi terasa betul nikmatnya.”
Si Mbarep menatap sang ayah. Secuil tempe mampir ke mulutnya yang mungil.
“Iya, para ibu-ibu petani di Peniwen, mereka menanam beras padi organik. Padi yang tidak dipupuk dengan pupuk kimia, juga disemprot dengan obat kimiawi,” ujarnya berkisah, sesaat melihat sorot mata Si Mbarep yang menuntut penjelasan.
“Lha iya, lha wong racun kok disebut obat!” sang Bunda menimpali.
“Memang, kita ini sudah kadung banyak salah kaprah. Bahan pembasmi hama  pengganggu tanaman, disebut obat. Padahal itu racun!” geram terdengar.
Di dalam sana, ada sebogkah kekuatan yang menyulut geram itu. Bagi Sang Ayah, sedikit banyak, dia memahami pergulatan batin petani, petani jawa khususnya. Pada bukanlah semata tanaman komoditas perdangan. Bukan sebatas itu. Lewat beberapa teman petaninya, dia mendapat pengertian bahwa padi adalah ‘tumbuhan dewata’.
Lewat tanaman inilah manusia Jawa percaya pemeliharaan kehidupan oleh Dewata. Jadi, dengan menanam dan memelihara tanaman padi, sebenarnyalah –jauh di lubuk terdalam sana- memuat penghayatan akan penyelenggaraan Illahi nan agung. Padi, dengan demikian, menjadi lambang kehadiran Sang Penyelenggara Hidup di dalam dunia keseharian.
Penghayatan seperti ini seperti porak-poranda, justru ketika pemerintah lewat kebijakannya (?), menetapkan benih, pupuk dan ‘obat’ semprot hama sebagai elemen dalam menenam padi. Pupuk dan ‘obat’ yang sejatinya adalah bahan kimiawi yang sulit diurai oleh mikroganisme tanah.
“Pa...” sapa si Mbarep dengan sorot matanya.
“Sudah, Nak...?” Sang Bunda bertanya, seraya tangannya berusaha mengangkat piring kosong di depan anaknya. Persis ketika piring mau diangkat, tangah si Mbarep memeganginya.
“Mau nambah.....imbuuhh...?”
Si Mbarep pun mengangguk.
“Tumbeeennn...!” seru sang Ayah. “Gitu doong, makan yang banyak, biar lekas gedhe....hehehee...baguss...” sang Ayah mengacungkan jempolnya
Malam baru saja datang. Acara makan malam pun tuntas sudah. Masing-masing perut telah diisi. Kenyanglah sekeluarga. Di dalam hati, masing-masing berseru dalam ungkapan syukur.  Sang Bunda pun tersenyum puas. Tanpa lauk macam-macam, ternyata makan malam pun bisa terasa nikmat.
“Mangan sing paling enak iku, Cah Ayu, yen lawuhe luwe lan syukur...” teringat wejangan sang Kakek.
“Oh iya, Ayah, kemarin Bu Bambang datang. Dia menanyakan urunan beras untuk acara barik’an atau tasyakuran peringatan hari kemerdekaan.”
“Oh iyaa...teruss...sudah diberikan?”
“Sudah,” pendek saja jawab Sang Bunda.
“Oohh...syukurlahh...” balas Sang Ayah tanpa ekspresi.
“Iya, kemarin sengaja saya ambilkan beras organik kita.”
“Hahh...apaaa?!! Pakai beras organik?!!” sontak melonjak penuh nada tinggi.  “Bagaimana sihh...itu kan beras mahal. Enak! Kokk....?!”
Seulas senyum indah mengembang dari bibir Sang Bunda. Sambil mengelus pundak suami tercinta, Sang Bunda bertutur, “Ayah, beras itu memang enak. Beras organik. Kualitasnya memang baik, jadi enak. Jadi kalau kita berikan untuk acara syukuran, kan ya sudah sepantasnya....Masak untuk diberikan orang lain, bukan yang terbaik...heheee...masih ada kok di belakang...”
Deretan kalimat itu bak air samudera raya. Teduh. Tenang namun menggulung tuntas ego yang berdiri tegap.
“Tak salah kumemilihmu....” Sang Ayah pun berdiri menghampiri isterinya. Sekecup cium mendarat di dahinya.
“Terima kasih, sayang, atas hikmatmu....”

Rawamangun, 30 Agustus 2011

Jumat, 12 Agustus 2011

Harga Kemanusiaan


(Abu Merapi 3)

Siang sedang meradang. Sinar matahari sedang berjaya atas bumi. Keringat masih mengalir. Sudah dua kali mengantar bantuan barang. Penat pun menyapa.
Nampak di kejauhan, pucuk stupa Borobudur. Tegak menuding langit.
Kali ini, sekujur tubuh Borobudur tersaput abu. Putih. Nampak pucat dari kejauhan. Tergelitik penat yang sedang menari, ingin rasanya sekadar mencicipi plesir. Ya, mumpung sedang ada di seputar daerah pariwisata. Apalagi, tugas seharian kan sudah kelar. Masak salah sih, sekadar mampir. Aah, semoga Tuhan gak marah….
Mampirlah serombongan pengantar bantuan bagi para korban erupsi Gunung Merapi. Di halaman parkir, berjejar pedagang barang-barang souvenir.  Ada beberapa kios yang sudah buka. Tak menunggu lama, tancap gas lontarkan transaksi. Tawar-menar pun tak terhindarkan.
“Berapa ini, Bu?” seorang teman membuka pintu transaksi.  Sepotong kaos oblong dia angkat. Ditempelkan ke badan, mematutkan diri. Rambutnya yang sebahu, terbang dipermainkan angin.
“Rp 35 ribu.” Seulas senyum terbit. Sorot matanya berkilau.
“Nggak bisa kurang?” sergapnya menawar.
Kembali, seulas senyum, terbit. Hanya senyum. Sambil sorot matanya masih berkilau. Penuh pengharapan.Sejurus kemudian, “Yahh…bisalah, kurang sedikit.”
“Kalau yang ini? Saya pengin memberi oleh-oleh untuk keponakan,” selorohnya begitu saja. Tangannya lincah membolak-balik kaos seukuran anak.
“Kalau itu Rp 20 ribu.” Datar saja. Tak terdengar nadanya menimpali. Biasanya, perempuan yang usianya menuju senja ini, begitu cekatan bersilat harga.
Sepenggal waktu, ada nada kosong menyelinap. Perempuan dengan  rambut sebahu dan temannya yang memakai kacamata itu, sibuk dengan imajinasi hitung-hitungan atau sibuk membayangkan ekspresi si penerima oleh-oleh. Sementara, ibu penjual, hatinya sedang melafalkan sebuah doa.
“Bu, sudah berapa hari buka?” teman yang berkacama, tiba-tiba membuka perbincangan.
“Baru tiga hari buka,” jawabnya datar. Namun terasa berbeda terdengar. “Tapi ya begitu, sepi…sepi gak ada yang datang. Ada Merapi, jadi ya Borobudur sepi…,” pecah sudah  benteng rintihan itu.
Seperti para pedagang lainnya di pelataran itu, mereka telah berhari-hari bergelut dengan abu Merapi. Tutuplah kios yang menjajakan barang suvenir bagi para pelancong. Mata pencaharian mereka.
“Ibu, saya ambil dua kaos  untuk keponakan saya juga. Ini. Jadi semua Rp 40 ribu, ya?” sedetik kemudian, tangannya sudah merogoh kantong. Selembar uang disodorkan.
“Puji Gusti!” serunya hampir tak bersuara.
“Ini kembaliannya. Sudah, ini saya imbuhi satu potong lagi…” ucapnya lagi.
“Matuurrnuwun…”
“Ibu, saya juga ambil tiga potong kaos untuk ponakan saya,” timpal teman yang satunya lagi.  Tanpa tawar-menawar.
“Lho, Bu….??!”
“Sudahlah…maturnuwun, sampun kersa tindak mriki….”
Ke dalam setiap tas pembungkus, diselipkan satu potong kaos tambahan. Sebagai imbuh.


Kisah Sebuah Salak


Abu Merapi (2)

Tiba-tiba teringat satu episode pada ujung sore, di daerah Muntilan, Magelang. Seorang Bapak (dilihat dari wajah dan kulitnya, dia nampak sudah berumur lanjut).
"Ini merupakan ucapan terima kasih kami..." ucapnya dalam bahasa Jawa krama inggil, seraya menyodorkan sekeranjang buah salak.
Duduk berdampingan, setelah mengantarkan beberapa bantuan. Tak terasa, 'berhasil' membawa barang bantuan (ya, hanya mengantar, karena memang bukan milik sendiri), menyembulkan 'kebanggaan'. Tembok kebanggaan yang rapuh.
Suatu yang menggoda. Nylonong datang tanpa undangan.
Seraya beristirahat, satu demi satu buah salak mampir ke mulut. Sambil mengobrol singkat di ujung perjumpaan. "Ini panenan buah salak terakhir...setelah itu, kemungkinan besar baru tiga tahun lagi bisa panen," tambahnya pelan.
Kunyahan sempat berhenti sejenak.Mendengarnya, seorang sahabat sempat menolak, "Sudahlah Pak, tidak usah repot-repot...terima kasih," timpalnya.
"Kalau memang panen terakhir, kenapa tidak dijual saja dan hasilnya untuk bekal menuju tiga tahun itu?" bisiknya kepada rombongan pengantar bantuan. Setengah suara saja. Seperti tak ingin didengar oleh si empunya salak. Membiarkan senyap berkelebat.
"Belum tahu, bagaimana ke depan nanti. Tapi yang kami tahu, kami tidak sendirian menghadapinya. Dan kami hanya memiliki buah salak sebagai ucapan terima kasih kami," begitu saja kalimat itu dituturkan. Datar. Membentur dinding sepi.
Tak tahu bagaimana, sepenggal demi sepenggal kalimat itu, seperti sedang menari-nari, persis ketika perjalanan menyusuri hamparan perkebunan salak yang diguyur abu Merapi. Daunnya jatuh ke tanah. Tak kuasa menahan abu. Ambruk sejauh mata memandang....
Tiba-tiba, sorot mata itu menyelinap. Bening. Teduh. Perlahan merontokkan kesadaran yang berdiri congkak…
 Dia memberi bukan dari kelimpahan dan kelebihannya....
Engkau-kah itu...
Aah....

Rahim Pendidikan Karakter


Abu Merapi (1)


Sudah seharian dia datang. Bersama dua orang rekannya, dia berangkat dari Blitar tadi malam. Di beranda, seorang Ibu yang nampaknya telah berusia limapuluhan, membuka perbincangan. Pada suatu sore yang gerimis. "Awalnya, anak-anak memang melarang saya berangkat," lontarnya membuka perbincangan. Halaman pertama perkenalan ia singkap. Tanpa nada ketus. Di sela letih setelah seharian beraktivitas sebagai relawan.
"Lha iya, saya berangkat itu juga diberi pesan sama anak-anak dan saudara-saudara," ujar seorang Bapak, rekannya berangkat dari Blitar menambahkan.
Tak menunggu lama, Bapak tadi segera melanjutkan kisahnya. "Saya bilang sama mereka, saya ini pensiunan angkatan, ABRI. Dulu kalau pas dines, kan sering dapat tugas ke daerah bencana. Eehh...tadi baru nyampe, sudah ditelpon lagi sama anak saya. Dia menanyakan kabar saya. Ya, saya jawab saja, saya sehat-sehat saja. Namanya juga anak...." ujarnya berbagi.
Sore perlahan merayap menuju malam.Kemudian, Ibu tadi melanjutkan kisahnya, dari dalam almari, ia mengeluarkan sebuah album foto. Kepada dua anaknya, ditunjukkan foto-foto masa mudanya. "Ini foto Ibu ketika masih muda dulu, turut jadi relawan untuk membantu pengungsi karena banjir. Waktu Gunung Kelud meletus, ibu juga sempat jadi relawan," ujarnya, seraya menunjukkan beberapa foto.
"Nah, ketika Ibu menikah dan punya anak, aktivitas sosial seperti ini sudah tidak Ibu lakukan lagi. Konsen membesarkan dan mendidik kamu. Ketika kalian sudah pada gedhe, anak pertama sudah menikah, Ibu ingin berangkat lagi jadi relawan. Jadi, kalian tidak usah khawatir," nampaknya ia ingin menyakinkan kepada anak-anaknya.
Betapa kuatnya panggilan jiwa itu. Seolah, sudah sekian lama ia pendam. Ketika saat telah datang, tak kuasa lagi ia tahan. Usiapun tidak. Ia pun menurutkan raganya memenuhi panggilan.
Tidak semua anak, begitu saja merelakan orangtuanya berangkat menjadi relawan...sebaliknya, tidak semua orangtua rela hati meluluskan ijin anaknya sekadar jadi relawan sosial...
Ahh, rumah, sekolah, tempat bekerja maupun lingkungan sekitar, rupanya menjadi rahim bagi jiwa yang senantiasa terpanggil berbagi cinta kasih merayakan kehidupan ...
Katur sungkem kagem Bapak Ketut lan Ibu Melan, relawan saking Blitar...
***