Jumat, 12 Agustus 2011

Kisah Sebuah Salak


Abu Merapi (2)

Tiba-tiba teringat satu episode pada ujung sore, di daerah Muntilan, Magelang. Seorang Bapak (dilihat dari wajah dan kulitnya, dia nampak sudah berumur lanjut).
"Ini merupakan ucapan terima kasih kami..." ucapnya dalam bahasa Jawa krama inggil, seraya menyodorkan sekeranjang buah salak.
Duduk berdampingan, setelah mengantarkan beberapa bantuan. Tak terasa, 'berhasil' membawa barang bantuan (ya, hanya mengantar, karena memang bukan milik sendiri), menyembulkan 'kebanggaan'. Tembok kebanggaan yang rapuh.
Suatu yang menggoda. Nylonong datang tanpa undangan.
Seraya beristirahat, satu demi satu buah salak mampir ke mulut. Sambil mengobrol singkat di ujung perjumpaan. "Ini panenan buah salak terakhir...setelah itu, kemungkinan besar baru tiga tahun lagi bisa panen," tambahnya pelan.
Kunyahan sempat berhenti sejenak.Mendengarnya, seorang sahabat sempat menolak, "Sudahlah Pak, tidak usah repot-repot...terima kasih," timpalnya.
"Kalau memang panen terakhir, kenapa tidak dijual saja dan hasilnya untuk bekal menuju tiga tahun itu?" bisiknya kepada rombongan pengantar bantuan. Setengah suara saja. Seperti tak ingin didengar oleh si empunya salak. Membiarkan senyap berkelebat.
"Belum tahu, bagaimana ke depan nanti. Tapi yang kami tahu, kami tidak sendirian menghadapinya. Dan kami hanya memiliki buah salak sebagai ucapan terima kasih kami," begitu saja kalimat itu dituturkan. Datar. Membentur dinding sepi.
Tak tahu bagaimana, sepenggal demi sepenggal kalimat itu, seperti sedang menari-nari, persis ketika perjalanan menyusuri hamparan perkebunan salak yang diguyur abu Merapi. Daunnya jatuh ke tanah. Tak kuasa menahan abu. Ambruk sejauh mata memandang....
Tiba-tiba, sorot mata itu menyelinap. Bening. Teduh. Perlahan merontokkan kesadaran yang berdiri congkak…
 Dia memberi bukan dari kelimpahan dan kelebihannya....
Engkau-kah itu...
Aah....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar