Jumat, 12 Agustus 2011

Iki Lho, Aku Sik Enek….


Serpihan Kenangan, 100 Hari Mbak Ratna Indraswari Ibrahim
Pagi itu, 14 Februari 2011, menunggu memang menjadi saat yang mengundang resah. Hari yang biasanya oleh sebagian orang dirayakan sebagai hari kasih saying, Valentin (Valentine Day). Jelas bukan isu politis yang seksi, seperti lazimnya gerakan demonstrasi lainnya. Disepakati bahwa rombongan menuju ke gedung DRPD Kota Malang, jam 8. Beberapa hari sebelumnya, persiapan lagu-lagu untuk demo pun dilakukan.
Wahh, lagune duduk sing biasane digawe arek-arek demo…hehee…Lagune malah lagu tembang kenangan, tapi lagu yang lirik dan iramanya rodok angel…koyok lagune Chryse sing lawas-lawas iku…” tutur Djaloe, pemetik senar gitar, salah satu musisi pengiringnya. Satunya lagi, akrab disapa Mas Gik, penggesek tali biola. Ya, hanya dua musisi ini saja. Mereka sudah siap sedari 15-20 menit lalu.
Di teras depan, di sebuah rumah  di Jalan Diponegoro, Malang, terdengar keras ia menghardik, “Lu…Lu..!! Yakapa se arek-arek iku. Janjian jam 8, sekarang sudah jam 8, malah belum datang. Mau jadi apa itu. Mereka ini arek enom. Generasi muda tidak tepat waktu. Awak’e dewe iki arep berjuang, dudu’ arep mlaku-mlaku rekreasi. Berjuang kok telat, iki yakapa se…ngana arep berjuang gawe wong cilik!!”
Teman-teman yang mau demo, belum banyak yang datang. Beberapa yang sudah datang, ada di belakang. Ada yang masih ngopi, nyamil mengisi perut, sambil gojekan. Bahkan, ada pula yang masih mandi. Suara geram dari teras depan itu, bukan tandingan berarti bagi suara cekikik’an.
Apalagi suara geram itu keluar dari kerongkongan manusia yang bertubuh lunglai. Hampir seluruh hidupnya dihabiskan di atas kursi roda. Tubuhnya rapuh. Namun tidak dengan jiwanya…
“Wiss, ayo berangkat saiki ae…!!” suaranya parau, tapi isinya jelas.
Setelah seseorang masuk rumah memberitahukan, rombongan yang dikenal sebagai ‘para aktivis’ ini pun mulai keluar ruangan. Tidak begitu lama, iring-iringan pun mulai bergerak. Pertama menuju Stasiun Kota Baru. Di depan stasiun inilah, rombongan membagikan beberapa tangkai bunga, sambil bernyanyi. Juga senyum.
Tak begitu lama, sampailah di halaman luar Gedung DPRD Kota Malang. Mereka berhenti di luar pagar, persis di pinggir Alun-alun Bundar. Memilih di bawah kerindangan Pohon Trembesi. Hanya sesekali orasi. Itupun dengan puisi. Selebihnya, ya bernyanyi.
Pagi semakin menuju siang. Satu dua orang mulai datang dengan mikrolet. Ada pula yang mengendarai sepeda motor yang telah dimodifikasi. Ban bagian belakangnya tiga. Ada pula yang body-nya juga dibuat lebih pendek. Ada pula yang turun dari mobil, dari atas kursi roda, diantar keluarganya. Mereka ini adalah anggota paguyuban sebuah perkumpulan atau organisasi orang cacat. Mereka sengaja langsung menuju di halaman Gedung DPRD Kota Malang.
“Awalnya, kami hanya membawa perangkat sound system a la kadarnya saja. Ya peralatan seadanya yang kami miliki. Salonnya juga kecil. Alat musiknya ya hanya biola dan gitar bolong,” tambah Djaloe.
Tapi, tidak lama setelah rombongan datang, lanjut Djaloe lagi, ada saja orang yang bersimpati. Ada seperangkat sound system lengkap. Besar. Halaman muka yang di dekat jalan itu, jadi seperti ada konser. Ramai… Ya ramai orang yang berhenti sekedar menonton, ramai karena orang-orang beryanyi. Lha ora rame yakapa, lha wong wong sing ndik jero gedung, para anggota dewan yang tadinya rapat, hanya inceng-inceng dari cendela, mereka malah keluar. Turun dari lantai II, bergabung dengan rombongan di halaman luar. Lalu ada beberapa yang ikut nyumbang lagu. Ikut bernyanyi.
Pihak aparat keamanan, baik dari petugas Satpol PP maupun Polri, juga berdiri santai, senyam-senyum melihat ‘pertunjukan’ itu. Tak ada aroma permusuhan, saling gontok, bersitegang adu mulut. Tak ada sepanduk berisi kecaman maupun tuntutan. Sebaliknya, lebih mirip kegiatan pentas seni. Bernyanyi, bernyanyi dan bernyanyi bersama.
Di atas panggung sederhana, bergantian para anggota dewan itu bernyanyi. Persis acara pementasan lagu sweet memory. Tak terbayangkan, para orang cacat ini, sepagi itu telah mampu mengajak para wakilnya anggota dewan itu bernyanyi bersama. Gelak tawa memupus jarak. Seolah, anak negeri itu ingin meluberi hari dengan suka cita kasih sayang.
Teman-teman fotografer, sibuk mengabadikan momen. Giliran teman kuli tinta, para wartawan, memeras perhatian sibuk menerjemahkan peristiwa.
Mbak, ini dalam rangka apa?”
Tak ada jawaban. Hanya senyum. Kalau pun toh ada jawaban, “Ya, dalam rangka hari kasih sayang.” Pendek saja. Sebenarnya, lebih tepat bukan jawaban. Tapi pernyataan agar si penanya berhenti bertanya.
Namun tak jua berhenti si penanya.  “Mbak, demo ini tuntutannya apa?”
Ealaah, yang ditanya sedari tadi, malah cuma senyam-senyum, thok. Lha, kami datang ini tidak untuk menuntut, kok.”
“Lha trus…?”
Ya wis ngene ae…heheee… Kedatangan kami hanya ingin menghadirkan cinta. Iki lak dina Valentin, to rekmosok lali…Jadi ya kami ingin mereka tahu bahwa kita ini hendak berbagi kasih sayang…Ini lho, aku sik enek …”
Iki lho, aku sik enek….
Kalimat pendek ini ibarat pucuk gunung es. Inilah saya, aku, inilah kami, para penyandang cacat, para anak bangsa, rakyat pemilik sah negeri ini masih ada. Aku-ku dan aku-mu yang berkumpul menjadi kita. Kita adalah anak bangsa. Masing-masing aku adalah diri, pengejawantahan kehadiran, keber-ada-an. Perwujudan diri yang selama ini seolah dianggap absen, tidak ada. Keber-ada-an (eksistensi) diri yang telah dianggap hilang, tenggelam dalam anonym. Karena dianggap ‘tidak ada’, anonym, akhirnya sosok kedirian menjadi tak perlu diperhatikan dan dipedulikan.
Karena yang ada hanya aku, orang lain tidak ada. Sedangkan di tangan menggenggam kuasa, terserah padaku, apa saja hendak aku ingin perbuat. Begitulah congkak berseru, karena engkau menganggap aku hanya anonym…tidak lagi ada sesama…semua saling meniadakan, saling mengingkari keber-ada-an orang lain.
Hampir saban hari, kepada kita disuguhkan tontonan anarki. Di tengah gelontoran berita seputar aksi demonstrasi, yang lazim disertai amarah, saling umpat, bentrok adu fisik. Adu licik dalam permainan ‘sirkus politik’. Saling perah. Seolah anak bangsa ini sedang hidup di zaman tanpa adab. Zaman kegelapan.
Tiba-tiba, terdengar suara parau dari atas kursi roda. Lemah memang. Tidak dengan isinya. Begitulah, dia hadir, meng-ada…..
***
Dia sempat di rawat di sebuah kamar pavuliun, rumah sakit di dekat rumahnya.
“Lu, endi gitarmu… Awakmu iki, wis dikandani lek mrene iki gawa’a gitar….”
“Mosok oleh, Mbak…lha wong iki rumah sakit haree…mosok arep gitaran ndik kene…”
“Lha yakapa se…yo oleh ae….heheheee…”
Maturnuwun, Mbak Ratna Indraswari Ibrahim
Namamu telah menghuni ruang abadi
(Suwun Lu)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar