Nafas sedikit terengah-engah. Halaman gereja sudah sepi. Berarti, ibadah sudah dimulai. Terdengar lagu pujian. Setelah tolah-toleh, akhirnya nemu juga tempat duduk. Begitu mendaratkan diri di tempat duduk, perlahan-lahan, mulai mengatur nafas….
Setelah sekadar bersaat teduh, kepala pun mendongak. Mengikuti tatanan liturgi yang sedang berjalan. Khidmat. Tiba-tiba, entahlah, begitu saja melintas. Di depan, nampak ‘adegan jejer’.
Pendeta sebagai pemimpin ibadah, berada persis di bagian paling depan, di tengah-tengah sebuah bidang. Di samping kanan dan kirinya, berderet para anggota majelis. Pendeta berdiri di balik mimbar tempatnya mewedar nasihat. Menghadap ke umat. Semua titah nasihatnya ditujukan kepada semua warga.
Di samping kanan dan kiri Pendeta. Duduk berderet para anggota majelis. Duduk menghadap ke arah Pendeta. Pendeta dan para anggota majelis, berada pada suatu bidang di depan, biasanya dibuat lebih meninggi, sehingga para terlihat jelas dari tempat duduk paling belakang sekalipun. Sekaligus, menjadi penegasan, siapa mereka sebenarnya.
Dari tempat lebih tinggi inilah, suara Pendeta menebarkan kewibawaan. Mengisi seluruh cakrawala ruang dengan kawicaksanaannya…
***
Dahulu, ketika masih usia kanak, kebetulan di depan rumah ada sebuah tanah agak lapang. Di atas tanah lapang itu, pernah disewa oleh rombongan grup ketroprak tobong. Sebuah kelompok drama/teater tradisional yang mengangkat kisah-kisah kerajaan-kerajaan di Jawa.
Mungkin, saking seringnya nonton, jadi hapal, apalagi detil pembukaannya. Biasanya, begitu layar terkembang, di atas panggung akan segera Nampak ‘adegan jejer’. Sisi panggung sebelah kiri (dari arah pandangan penonton), duduk bersila di bawah para pejabat keraton. Ada pejabat yang duduk di kursi, namun lebih rendah dari satu kursi tertinggi yang ada di hadapannya.
Biasanya, kursi paling tinggi itu ditempati oleh raja. Di samping kursi raja, ada juga kursi milik permaisuri… Duduk di bawah, bersila, para mbok emban, pengurus kerumah-tanggaan kerajaan.
Dramaturgi ketoprak, dimulai persis ketika layar panggung terkembang. Nampaklah jajaran kabinet keraton dalam lakon ketoprak itu. Setelah irama gamelan meninggi, masuklah sang maharaja diradja. Semua yang hadir dalam pisowanan agung menghaturkan sembah dharma baktinya kepada sang maharaja diradja.
Kemudian, pertemuan pisowanan agung pun dimulai. Sang maharaja diradja meminta laporan dari mahapatih (wakil raja atau perdana menteri). Tidak ada yang boleh bicara, tanpa ditanya. Mahapatih pun melaporkan kondisi terkini (dan terpercaya) tentu saja. Mendengar hal itu semua, raja pun mengeluarkan titah kawicaksanaan. Memberi petunjuk, ke arah mana biduk hendak berlayar….
Puncak Bukit Tidar, 13 Oktober 2011

Tidak ada komentar:
Posting Komentar