Terima kasih, Cornelia. Kalimat itu meluncur begitu saja. Tanpa suara.
Semalam, terbetik kabar, Mahasiswi Program Studi (Prodi) Teknik Informatika Universitas Ma Chung (UMC) ini, menghembuskan nafas terakhirnya, 23/05. Terhenyak mendengarnya.
Melintas begitu saja, ingatan perjumpaan yang tidak begitu lekat. Dia sempat menarik perhatian. Bukan lantaran dia ‘istimewa’ dibanding mahasiswa lainnya, karena saban hari berkursi roda. Tubuhnya terserang polio, hingga memaksanya hidup berkursi roda, semenjak kanak. Akibatnya, pertumbuhan tubuhnya tidak senormal anak sebayanya.
Aku sama sekali tidak cukup mengenalnya dengan baik. Hanya begitu jelas di pandang bahwa tubuhnya kecil. Cenderung ringkih. Akan tetapi, semangatnya jauh melampaui kursi roda, bahkan tubuhnya sendiri.
Dia mengisi hari-harinya dengan kerja keras. Manusia pembelajar. “Kalau belajarnya belum selesai, ya dia gak akan istirahat. Meski sampai jam 11 atau jam 12 malam,” tutur Pak Min. Pak Min tahu hal itu, karena saban hari, dialah yang menjemput pulang Bu Misna, istrinya.
“Iya, dia hanya ingin ditemani saja,” tambahnya mengenang.
Sepulang sekolah atau kuliah, tambahnya lagi, dia tidak pernah tertarik walau sekadar mampir kongkow di mall. Entah mengapa, dia selalu ingin segera pulang. “Dia ingin segera pulang secepatnya untuk belajar.” Tak heran, prestasi akademiknya cukup lumayan. Dia mendapat beasiswa penuh dari Perguruan Tinggi Swasta ternama di Surabaya. Dia juga tercatat jarang absen dalam perkuliahan.
Sekilas, dia seperti seorang mahasiswi yang hanya bergaul dengan buku. Etos kerja kerasnya, jawaban bahwa di balik tubuh yang lemah, prestasi akademik juga masih bisa dicapai. Di bidang non akademik, namanya tercantum dalam struktur kepengurusan Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMP) Teknik Informatika Periode 2013-2014, sebagai Sekretaris.
“Dia memang suka ikut kegiatan outbond. Mulai sejak sekolah SMA maupun kuliah,” tutur Pak Min. Pak Min adalah suami dari Bu Misnah, pengasuh Cornelia semenjak kecil.
Hal itu pula yang terjadi, ketika dia mengikuti acara Orientation Based on Reflection (Obor) I. Kegiatan pelatihan kepemimpinan yang tidak diwajibkan. Kegiatan tersebut sengaja diadakan demi mengungkit kesadaran mahasiswa dalam mengembangkan potensi dirinya. Nah, Cornelia Chandra bersama 50 mahasiswa mendaftarkan diri, ikut pelatihan yang digelar di Pertapaan Carmel, Ngadiresa, Tumpang, Kabupaten Malang, 15-17 Januari 2013 (bahkan ketika jumlah pendaftar melebihi kuota, acara tersebut digelar lagi. Namun dia sudah ikut pada gelombang pertama).
Pada pelatihan di Tumpang tersebut, salah satu kegiatannya adalah kerja kelompok membuat rancang bangun dari bambu. Dia sadar keberadaannya. Namun dia sama sekali tidak menghabiskan waktu dengan beristirahat. Tangannya selalu ingin bergerak membantu rekan satu tim. Dia tidak ingin diistimewakan hanya karena keterbatasan fisiknya.
Kehadiran Lia, demikian dia akrab disapa, di masa perkuliahan, menjadi salah satu pupuk bagi tumbuhnya benih kepedulian sesama. Kelasnya berada di lantai ketiga. Sementara itu, gedung perkuliahan belum dilengkapi dengan fasilitas bagi mereka yang memiliki kebutuhan khusus. Tak pelak, dua orang pengasuhnya, seringkali dibantu teman-teman mahasiswa mengangkat tubuhnya di kursi roda.
Pada Selasa, 21/05, dia sakit flu. Sempat berobat ke dokter. Esok paginya, Rabu, 22/05, dia minta diantarkan kuliah. Padahal menurut pengasuhnya, dia sudah mengantongi surat ijin dokter untuk beristirahat. “Pagi saya mengantarnya (kuliah), siang pulang. Setelah istirahat, sorenya ada jadwal kuliah lagi. Dia pun berangkat juga. Kamis dia merasa dadanya sesak. Padahal selama ini dia tidak menderita sakit dada….” tutur Pak Min lagi.
Kondisi tubuhnya, seolah berbanding terbalik dengan semangatnya. Begitu jelas. Bahkan, terlalu jelas kalimat tanpa kata yang dia ungkapkan…
Terima kasih Cornelia Chandra atas pelajarannya…
Selamat beristirahat dalam keabadian...
http://www.facebook.com/photo.php?fbid=4744487334895&set=a.1485127732942.219468.1376352384&type=1
Tidak ada komentar:
Posting Komentar