Selasa, 28 Mei 2013

Rumah bagi Jiwa





Minggu siang, 26 Mei, Kota Malang diguyur gerimis. Agak deras. Di tengah menikmati suara gemercik air, daun pintu rumah diketuk orang.

“Numpang ngiyup, ya Mas..” Ahaa, ternyata seorang teman. Bersama istrinya, ia berbasahan dia merapat ke depan rumah.

Setelah berbasa-basi sejenak, sepasang suami-istri ini mengungkapkan maksud. Mereka sedang menunggu pemilik rumah di samping rumahku. “Kami hendak melihat rumah, Mas. Siapa tahu cocok,” selorohnya datar saja.

Perbincangan mengalir selancar gerimis siang itu. Rupanya, mereka sedang ‘berburu’ rumah tinggal. Siang itu, sedang menunggu pemilik rumah yang diincar itu datang. Di samping rumahku memang ada satu rumah kosong bertuliskan ‘dijual’.

Tidak banyak yang aku tahu tentang mereka. Sebagian kecil yang ku tahu, mereka sudah bertahun-tahun tinggal di daerah Mergan. Sang suami sudah puluhan tahun mempersembahkan diri membantu sebagai tenaga sekretariat di sebuah gereja. Mereka tinggal di rumah miliki gereja tersebut. Konon, pengurus gereja dahulu membeli rumah untuk ditempati keluarganya. Sudah puluhan tahun silam...
Beberapa bulan lalu, aku sempat dengar, beberapa anggota pengurus gereja, setuju bahwa rumah tersebut bisa dicicil oleh penghuninya. Ya, hanya beberapa saja. Sisanya (mungkin lebih banyak jumlahnya) menyatakan tidak setuju. Mendengar polemik itu, dia merasa tidak nyaman. Diputuskanlah mencari rumah tinggal baru. Diam diam.

“Kami sudah sempat berkeliling, melihat di beberapa perumahan. Tapi belum ada yang cocok. Durung sregg..”

“”Termasuk harganya..”
Mereka saling melengkapi.
Hahaaa….

Meledaklah tawa bersama, menimpali gerimis.

Tawa kami diredakan oleh dering telepon genggamnya. Rupanya, sang empunya rumah sudah datang dan bisa ditemui. Mereka pergi melihat rumah, menerjang hujan dengan payung.

 “Kayaknya rumahnya lebih kecil dari rumah yang kami tinggali sekarang, Mas…”

“Iya..kami bilang sih, akan menimbang-nimbang lagi…”

Sorot matanya memandangi meja. Tatapan yang di luar kendali maksud. Apalagi setelah menyebutkan sejumlah angka, harga penawaran rumah tersebut.

“Kami sekarang tinggal bertuju. Ada saudara juga yang tinggal bersama kami. Kalau dengan harga segitu, dan kami mesti membuatnya menjadi dua lantai… yakapa ya…” meluncur saja nada keluh itu.
Sore segera menjelang. Gerimis sudah mereda. Mereka pun berpamit. Sang suami memakai jas hujan. Istrinya, mengiring di belakangnya, menyusup masuk ke dalam jas hujan suaminya.

Malamnya, aku ceritakan pada istriku perjumpaan sesore itu. Sebab istriku kebetulan ke luar rumah mulai siang hingga malam. “Sang suami itu, lima tahun lagi sudah akan pensiun, lho…”

Berdua, seolah kami terserap diam. Entah mengapa, imajinasi yang muncul adalah wajah anak-anak mereka yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Mereka berusaha mencari rumah di sekitar daerah Mergan atau Bandulan. Meski ada nylempit. Selain murah, mereka juga merasa nyaman pergi ke gereja dengan warga yang masih dikenalnya. Warga yang tidak sedikit menjadi bagian dari kelompok masyarakat menengah ke bawah.

“Kalau ke gereja ini, kan warganya masih banyak yang setara, Mas…”

Kalimat terakhir ini sempat tinggal beberapa saat. Ada yang mengganjalnya lewat begitu saja. Tiba-tiba, teringatlah seraut wajah seorang sahabat lama. Dia bekerja di sebuah perusahaan di seputar daerah Rungkut, Surabaya. Tinggal di rumah petak. Rumah hunian para buruh pabrik.
Dia mengaku, akhir-akhir ini sudah jarang beribadah di gereja. Awalnya, dia berusaha menyembunyikan jawab. Setelah beberapa saat, dia mengaku,, “Dahulu, saya dan teman-teman masih aktif ke gereja. Ikut kebaktian dan kegiatan. Tapi sebelum gereja itu dibangun. Setelah dibangun, gereja itu begitu apik. Lantainya mengkilap.”

“Iya jelas, lha wong marmer kok…” teman di sampingnya menambahi.
Setelah gereja begitu apik, ada banyak warga yang ikut ibadah di sana. “Awalnya sih senang. Tapi, lama kelamaan, kok terasa yakapa….”

“Warganya banyak yang datang bermobil. Jadi kalau ibadah, jalan depan gereja penuh…”
Ada kalimat yang tidak tuntas. Menggantung tak tak terselesaikan….

“Ya, kalau ke gereja pas pulang ke Tulungagung saja. Sambil tilik keluarga. Anak saya ikut mbahnya di sana. Mungkin, ya tiga bulan sekali…”

Tanah masih basah oleh gerimis. Merayap pelan, rindu rumah yang tak lagi asing bagi jiwa….

Selamat bulan Kesaksian dan Pelayanan GKJW 2013

Selamat merayakan hidup.

Berkah Dalem Gusti

Bukit Tidar, 29 Mei 2013

2 komentar:

  1. Itu juga alasan saya tidak pergi ke gereja beberapa lama ini.... silau.... biasanya pula saya duduk di belakang... mungkin rumah saya bukan di salah satu gedung gereja itu.... memaksa hati, namun tetap tidak menemukan arti... buat apa ya?

    BalasHapus
  2. Apik om ... iya dan idem ...

    BalasHapus