Rabu, 26 Oktober 2011

Sidang Wong Agung

Pendapa Agung terlihat sepi. Lenyap sudah keramaian tempo hari. Spanduk, umbul-umbul, poster, terop, serta semua pernik asesoris Sidang Agung telah diturunkan. Hanya sebuah gedung bangunan yang berdiri kokoh menantang waktu. Berteman sepi.

Beberapa nampak tukang taman sedang merapikan tanaman. Sesekali mereka mengatur dan memindahkan bunga-bunga hias nan indah. Sudah beberapa bulan terakhir ini, Kantor Wong Agung berbenah diri. Tembok-tembok luar dan dalam kantor, dicat ulang dengan warna lebih segar cerah. Meski akhirnya (juga sebelumnya), ruang itu lebih banyak diisi kosong tak bertuan. Beberapa pohon pun ditebang, diganti paving stone dan taman sari nan indah permai.
Sementara di bagian halaman lain, Kang Karyo nampak membersihkan halaman Pendapa Agung. Seperti biasanya, seperti sebelumnya…bahkan mungkin juga sesudahnya, Kang Karyo tak turut perhelatan mahatinggi Para Wong Agung. Kang Karyo pun tahu diri. Di bagian mana dia bisa turut ambil bagian. Tentunya, jelas bukan di perhelatan yang salah satunya, melahirkan keputusan nasibnya di masa mendatang.
“Kita harus bijak membuat keputusan. Jangan sampai salah arah. Ini Gereja milik Tuhan!” imbau Tuwan Pandhita Bawon pemimpin Sidang Agung.
“Saya usul, karena sekarang dunia sedang dilanda krisis ekonomi, kita mesti mengadakan penghematan. Ya, penghematan di segala bidang. Kalau perlu, gaji dan tunjangan juga dikurangi,” usul Tuwan Pandhita Seger.
“Setubuh…eh setuju! Termasuk tunjangan kesejahteraan dan biaya asuransi pensiun. Termasuk Pensiun karyawan!” Tuwan Pandhita Geger mendukung.
“Sebentar Tuwan, ngirit ya ngirit, tapi jangan sampai tidak manusiawi. Berapa sih upah para karyawan di kantor kita? Kalau itu masih dikurangi, apalagi juga asuransi pensiun mereka…wah, saya kok tidak bisa membayangkan….” Tuwan Pandhita Pujo menyela. Namun, apalah artinya satu di antara mayoritas suara yang sedang menggemuruh.
Di Pendapa Agung inilah, beberapa keputusan dibuat. Di gedung yang halamannya kini sedang dibersihkan oleh Kang Karyo. Lelaki renta yang telah puluhan tahun, melakukan tanpa menghitung hari. Dia begitu merasa bersalah, apabila musim kemarau datang. Terlambat menyiram, beberapa tanaman mulai melayu. Dahannya jatuh ke tanah. Tidak satu dua kali, semasa kantor libur panjang, dia menyempatkan ke kantor, hanya untuk menyiram tanaman. Ketika bunga mulai mekar, senyumnya pun mengembang.
Pendapa Agung adalah tempat wingit. Sebuah tempat terhormat. Di dalam gedung inilah pertemuan demi pertemuan di gelar meraih masa depan lebih gilang-gemilang jaya. Karena itulah, Kang Karyo seperti tak rela jika halaman Pendapa Agung tak terawat. Bunga taman mesti seger. Sebab hijau indahnya, memberi sumbangan asri kepada setiap insan yang sedang bersilat argumen, demi keputusan terbaik. Kepala boleh panas, namun hati haruslah tetap dingin sejuk. Seperti saat itu, perdebatan pun mulai beringsut memanas…
“Mohon dipertimbangkan, untuk persembahan bagi tenaga pelayan, sudah beberapa tahun tidak ditinjau ulang,” Tuwan Sawut mencoba mengingatkan.
“Iya, terima kasih. Memang tenaga pelayan sebagai tenaga pembina di jemaat, perlu ditinjau ulang besaran persembahan bulanannya. Baiklah, bagaimana kalau demi penghematan, kita tidak menaikkan gaji karyawan kantor. Ini sebuah keputusan yang berat. Keputusan sulit. Namun kita nanti juga meminta pengertian para tenaga karyawan kantor, betapapun kita masih perlu mengencangkan ikat pinggang. Kita tidak perlu takut dan resah, apalagi kuatir mengenai masa depan kita. Toh, pastilah kita percaya, Tuhan Sang Pemilik Hidup kita, pastilah masih sudi memelihara hidup kita,” panjang lebar penjelasan Tuwan Bawon memberi arahan kebijaksanaannya. Para Anggota Sidang Agung pun manggut-manggut.
“Bagaimana, setuju?!”
“Setujuuuu….!”
Dook!!
“Demikian halnya dengan tunjangan hari tua, biaya asuransi bagi para karyawan kantor. Kita kurangi sedikit, ya? Setuju?!”
“Setujuuuu….!!”
Dook!!
Nah, demi meningkatkan pelayanan, kita mesti bijak dalam hal ini! Ingat, sekarang kita sedang dilanda krisis. Krisis dunia yang imbasnya negara kita pun ikut merasakan akibatnya. Dunia usaha sedang lesu. Perekonomian sedang menurun, melambat tingkat pertumbuhannya. Banyak pekerja yang di-PHK. Banyak orang yang letih lesu, berbeban berat. Banyak orang butuh penghiburan. Tidak sedikit warga jemaat kita yang memiliki usaha, sedang dilanda keresahan akan kelangsungan usaha mereka. Kita mesti membantu menguatkan dan mendampingi mereka. Maka dari itu, sebagai tenaga pembina full timer, kita mesti bekerja keras. Nah, anggota Sidang Agung yang terhormat, apakah setuju dengan konsep keputusan yang telah dirumuskan oleh Bendahara dan diajukan oleh Komisi Kesejahteraan ini?!”
“Setujuuuuu….!!”
Dookk!!
“Puji Tuhan, kita sudah menyelesaikan Sidang Wong Agung. Dengan ini sidang kami tutup!”
Dookk!! Dookk!! Dookk….!!
Dentum palu itu terdengar begitu mantap. Marem. Demi meningkatkan motivasi pelayanan para tenaga pembina full timer di Gereja milik Tuhan di Tanah Jawi ini, gaji dan tunjangan keluarga, termasuk biaya asuransi bagi tenaga pembina penuh waktu telah ditingkatkan…
Setelah itu, tiada lagi dentum palu terdengar. Hanya ada gesekan sapu lidi Kang Karyo di atas tanah membersihkan halaman. Debu pun berterbangan. Sementara itu, seperti telah berlangsung beberapa bulan terakhir ini, nampak para tukang taman sibuk mengatur dan merapikan tanaman hias. Di tata rapi mempercantik wajah Kantor Wong Agung. Kantor yang terus berbenah diri, seolah sebentar lagi Sang Pemilik Kantor Gereja milik Tuhan di Tanah Jawi akan segera rawuh.
Selebihnya, hanya daun kering yang gugur ke tanah menerbangkan angin…


Bukit Balewiyata,
Sukun, Malang, Juli 2009
Kang Ndharu

1 komentar:

  1. Dok .. dok .. dok .. bagaimana di tahun 2011 ini ? Hehehehe :)

    BalasHapus